Saturday, November 10, 2007

Ceracau Pemimpin

Ada pernyataan yang terkenal mengenai manusia besar yang namanya selalu diucap bibir anak-anak zaman. Yakni sejarah adalah kisah para hero atau kisah para raja dengan dinasti atau kerajaannya. Walaupun pernyataan ini tidak semua orang menyetujuinya, namun dalam batas tertentu ada abenarnya dalam fakta atau lukisan sejarah. Cobalah tengok legenda kemasyhuran Alexander The Great yang memimpin sepertiga belahan dunia beserta kekayaan peradabannya dengan strategi ekspansi yang mencengangkan, pun dalam waktu yang relative masih muda. Tinta sejarah kemudian dibasahkan untuk menorehkan ketokohan Alexander beserta segenap karir kekuasaannya, seolah-olah imperium yang dibangun tersebut adalah manifestasi imajinasi serta representasi dari namanya. Alexander The Great adalah symbol dari sebuah imperium besar yang takluk di bawahnya, yang terbentang dari perairan Aegea di Yunani hingga semenanjung Afrika bagian utara di selatan serta babilonia dan India di timur. Sejarah imperiumnya adalah biografi kepemimpinannya. Hal yang sama dapat terjadi pada tokoh-tokoh dunia yang lain. Misalnya Soekarno, Hatta, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, sampai Che Guevara dan Malcolm X. Mereka terlibat dalam dinamika sejarah, berani mengambil risiko dan bergulat memperjuangkan cita-cita untuk mengubah realitas sejarah kala itu.


Kedirian yang unik, dalam artian bersedia mengambil penyikapan alternative dan menyimpang dari kelaziman zaman demi tujuan hidup yang lebih baik itulah yang membuat mereka tidak rela dilupakan oleh sejarah. Sejarah menyukai tipikal manusia yang unik. Karena tipikal unik berbeda dari yang umum, memiliki identitas dan peran yang menggambarkan rasa kemanusiaan yang betul-betul baru. Keunikan pada saat keberanian menentang realitas tiranik, menolak takluk untuk menjilati kaki-kaki pemilik privilege yang pro status quo. Keunikan memiliki citra yang menarik. Ia akan dituturkan oleh penyuka bahasa lisan dengan pengkhidmatan yang proporsional dan kadang meresonansikan kerjapan sosok mitologis. Namun ia akan ditorehkan dengan tinta sejrah, agar kelak dapat diingat, bukan untuk disembah, namun sebagai tugu peringatan, bahwa spirit perjuangannya haruslah terus dinyalakan.

Banyak sekali manusia ‘besar’ di sepanjang usia bumi yang sempat dihuni manusia. Mereka menjadi terkenal karena integritas pribadinya dalam konsistensi memperjuangkan berubahnya das sein menuju das sollen dengan segenap kekuatan manusiawinya. Mereka berupaya memutar roda-roda kehidupan sebagaimana layaknya menuju keserasian hidup. Harapannya besar sebesar wawasan berpikirnya. Daya berpikirnya yang mendapat pencerahan mengenai hakikat kemanusiaan dan kehidupan, akan terdorong untuk membumikan ide-ide besar yang revolusioner. Pikiran-pikiran besar yang berhasil terartikulasikan dalam realitas kehidupan dan membawa perubahan yang besar menuju kebaikan kemanusiaan, selalu dicatat sebagai amal kebaikan dan orang akan selalu mengenangnya sebagai tokoh yang beramal saleh. Tindakan yang revolusioner haruslah berdasar kepada kemaslahatan kemanusiaan serta dalam bingkai kepasrahan total kepada Sang Pemilik alam semesta ini, sehingga nantinya sebuah revolusi atau perubahan-perubahan social tertentu tidak kembali melahirkan tirani social yang baru.



Baca Selengkapnya...

Tuesday, October 23, 2007

Pelacuran Politik

Pelacuran secara generik memiliki konotasi negatif, bahkan bisa membuat kerut dahi dan dalam batas tertentu mendebarkan bongsoran dada dengan kejut freudian. Pelakunya secara otomatis, bagi masyarakat yang menjunjung teguh etika kehidupan yang beradab, akan menjadi mangsa pendefenisian maknawi sebagai pelaku lacur dan tak berbudaya luhur. Ia dicap negatif seperti muatan inheren kata pelacur itu sendiri. Pelacuran didefenisikan sebagai salah satu dosa besar, karena pertimbangan ideologis an sich, ataupun berdasarkan konklusi kesadaran yang lebih holistik, entah jejaring efek secara biologis, psikologis, ekonomis, sosial, budaya, dan lain-lain. Pelacuran adalah noda dan virus sekaligus yang sangat berbahaya dalam banyak entri kausalitasnya. Namun dalam nyatanya, pelacuran adalah fenomena kemanusiaan yang laten dan imanen. Bak rumput teki di tanah lapang, meski sudah dikeringkan dengan jilatan api, masih tetap mengerubuti permukaan tanah kembali ketika kesempatan yang baik datang dari limpahan derai kasih sayang awan hitam yang menggumpal di lapik terawangan nun putih. Ia menjadi problema kemanusiaan yang berkisruh dengan sisi humanitas yang konservatif. Ia adalah tabu. Pelacuran bisa memiliki banyak sebab. Namun kebanyakan adalah modus ekonomi yang membuat pelacuran berjingkrak dalam luapan metamorfosis bisnis gila-gilaan. Ia bersedia menghantam tembok moral masyarakat, baik secara sembunyi-sembunyi ataupun dengan cara yang vulgar namun bersembunyi di balik penyamaran dengan manipulasi prosedural.


Pelacuran sebagaiman di atas adalah pelacuran dalam bingkai seksualitas, atau dalam arti harfiah dan generiknya. Fenomena yang menyelubunginya sangat kompleks, namun senantiasa berkutat pada interes erotisme tubuh (masokisme, narsisme,) dan interes komersialisasi tubuh. Hal ini memiliki paralelitas dengan fenomena yang menyelimuti praktik perpolitikan yang bermesum di hadapan kita. Dunia praktik politik atau politik praktis adalah eksperimentasi yang menampak secara empirik di medan hitam putih percaturan kelompok-kelompok masyarakat. Dunia politik praktis adalah pengejawantahan bagaimana bidak-bidak catur melangkah. Selalu ada lawan yang teridentifikasi sebagai pemeran antagonis. Ada struktur yang hirarkis, lengkap dengan pemain dan sesepuhnya.

Secuil gambaran menarik yang bisa dikomparasikan dengan fenomena pelacuran politik ini adalah kisah Memoirs of Geisha yang ditulis oleh Arthur Golden. Memang ada yang menyimpulkan bahwa geisha bukanlah pelacur sebagaimana pelacur yang biasanya, namun gambaran aktivitas sang geisha dengan segala kedok tradisinya, bagi penulis adalah hanya persoalan perbedaan dalam taraf terminologi dan perspektif. Secara substansial tiada berbeda, meskipun ada perbedaan status elitisme diantara tokiya (semacam puri). Nah, seperti yang diceritakan dalam kisah para geisha itu, di sana terdapat para geisha, tentu geisha starter dan geisha magang, sebagai pion-pion yang posisi dan perannya sangat utama, di samping pemilik tokiya dan seluruh jajaran tenaga teknis yang mengurusi segala keperluan geisha, mulai dari merias wajah dengan bedak yang super tebal, menata ramput yang super rumit, mengikat obi (ikat pinggang yang lebar), soal koleksi kimono yang banyak, sampai dengan mengajarkan keterampilan memainkan shamisen dan menuangkan sake yang baik. Semua stakeholder tokiya bertanggung jawab terhadap keanggunan performa geisha yang dimilikinya. Itulah titik kunci yang menentukan survive-nya mereka. Perspektif komersil inilah yang tampaknya menonjol pada lakon tokiya.

Dalam praktik politik, di sana terdapat kata kunci yang relevan dengan kisah budaya negeri Jepang itu, yakni bagaimana mengelola permainan politik dengan segala bentuk intriknya (strategi-taktik) yang mirip dengan strategi internal tokiya dalam membesarkan geisha serta strategi eksternalnya yang menampak dalam rupa klik-klik strategis dengan pihak pengurus arbitrasi, serta teknik propagandanya terhadap tokiya-tokiya maupun geisha tandingan. Kadang dengan cara yang tidak fair pun berlaku dalam konteks perebutan konsumen tokiya. Dalam praktik politik, ada pemain-pemain politik (geisha) dan ada pemilik privilege yang pro status quo dan tiranik (pemilik tokiya). Berbagai rupa cara dibolehkan ditapaki demi pemeliharaan status quo atau dalam rangka bertarung demi membangun piramida kekuasaan yang baru. Banyak sekali jargon yang meruap merupa bait-bait indah yang menggugah hati melenturkan kesadaran dan memandulkan sikap kritis masyarakat. Rasa-rasanya anjing berganti rupa menjadi domba. Lolongan berganti kembikan, seragam militerisme dan tiranik bertukar jubah putih para bijak bestari. Itulah rupa praktik politik yang selalu saja hadir dalam siklus kebermasyarakatan kita.

Dalam jargonnya, kebaikan adalah wangi semerbak yang keluar dari bibir-bibir retorik. Idealitas menjadi titah yang menggelegarkan dinding langit rutinitas kerakyatan yang sedang runyam. Ia menggema dengan corong masjid, bel gereja, kelenteng, vihara dan simbol-simbol sakral rakyat. Begitu luar biasa. Ibarat janji itu misi antariksa, ia akan membuat bulan purnama muncul lima kali dalam sebulan. Fantastik dan munafik!!!


.

Baca Selengkapnya...

Thursday, September 27, 2007

Adatku Sekarat


dulu...
duluu sekali
kata orangtua kita yang hidupnya lebih dulu
kala itu...

dulu...
memang waktu dulu
dunia masih hitam putih
meski tetanaman tetap menghijau
walau kembang-kembang tetap bermekaran warna warni
dan purnama tetap menyungging kuning gading di paras langit gulita

dulu...
masih yang dulu
kala sungai-sungai di kampung masih jernih dan berlimpah
cericit dan kicauan burung riang mengitari kediaman dan bantaran nun sejuk
kampung masih perawan
masih bersih dari tv
masih suci dari hasrat konsumeris
kala telapak-telapak kaki tak beralas karet dan limbah sintetik
rumah berdindingkan pelepah gaba-gaba beratapkan rumbia
bocah-bocah bermain riang di tengah alam yang ramah

dulu...
ibuku berkisah
tak ada fashion apalagi citra selebriti taik kucing
anak perawan tetap alami dari salon kuku dan rambut
tetap cantik walau tak berpoles gincu pabrik
tak ada dugem

dulu...
kakekku mendikte sejarah
kehidupan berjalan harmonis
mikrokosmos masih menghargai eksistensi makrokosmos
dunia tenteram
tak berhasrat dalam benak untuk mencabik-cabik
denaturalisasi, desakralisasi, dehumanisasi belum mewacana
sementara perilaku yang baik-baik mentradisi
turun temurun dan melekat menjadi identitas budaya
karena ia sebagai konvensi bersama kala itu hingga hari berganti,
masa bertukar warna
tradisi membentuk sistem tradisi menyesuaikan dengan masyarakat yang membentuk sistem kehidupannya
tradisi menelisik membentuk ideologi
tradisi bertukar logos dengan adat
adat menjadi permainan tanda yang menyejarah
dan adat akan melalui fase perjalanan sejarah yang sarat dialektika
kisah adat menjadi terbuka untuk dikaji sebagai konsekuensi historisitasnya

kini kisah adat telah berganti rupa bertukar watak
kisah hitam putih telah disikat opera warna-warni sebagai lokus eksistensinya di masa kekinian
adat dipaksa mereformasi watak dan mitologi
adat adalah sebuah tanda budaya
sementara dunia yang sarat dialektika sekarang menawarkan permainan tanda yang berseliweran buas
tanda menerkam tanda
tanda yang stagnan akan diterkam tanda agresif
itulah kekinian kita

kalau dulu...
itu sudah berlalu
sekarang tanda kehidupan berbalik arah
serba paradoks
adat kita telah bercengkerama dengan realitas kekinian
dan itu tak bisa dihindari
tak bisa ditolak
karena itu adalah keniscayaan sejarah

kini...
jangan heran ketika adat kehilangan elan vitalnya
adat kehilangan identitasnya yang supreme
adat menjadi sketsa lapuk dimakan usia
adat kehilangan konteks dan semangat zaman
adat menjadi ritual yang formalistik
hampa substansi
anak-anak adat tak kuasa berpuasa diri
tak tahan konsisten dengan dogma adat yang menjunjung tinggi etika kehidupan
karena ana-anak adat kini hidup dalam dunia yang menawarkan dimensi etika baru
etika global yang materialistik
etika materialistik yang kanibalistik dan hedonistik
akhirnya mencetak diri macheavilianistik dan kapitalistik
lipstik
etika yang menggerogoti ketahanan etika primordial
melahirkan alienasi besar-besaran
jiwa terpecah
mental hipokrit
candu...
anak-anak adat teralienasi diri
menjinjing identitas adat lama namun berperilaku adat baru
skizofrenia...
inilah penyakit zaman kita
adat lama yang anti dugem dan mengharamkan pesta pora ala binatang
kini anak-anak adat sendiri yang men-type-X sendiri aturan-aturan sakralnya
akhirnya adat lama hanya menjadi siulan penghibur penat di tengah hingar bingar kontestasi kampung global
ia dipajangkan sebagai hiasan
dalam musium peradaban kemanusiaan hari besok
karena anak-anaknya sendiri yang mendua dalam memapahnya

besok...
mungkinkah adat kita seindah dulu yang penuh nilai-nilai kebajikan?
ataukah metamorfosisnya yang dipaksakan zaman menjadi layak disimpan jadi abu?
jadikan itu sebagai pekerjaan rumah bersama kita

Baca Selengkapnya...

Saturday, May 12, 2007

Sentilan Kapitalisasi Tubuh


Kata orang, masa yang paling melelahkan adalah ketika seseorang belum melepaskana masa lajangnya. Entah berapa usia standar yang biasa dijadikan bahan mengelak bagi yang menjomblo untuk menampik lembut: Aku belum siap! Diperlukan kesabaran di atas nominal untuk sekedar melupakan semilir sapa yang menggugah hasrat. Mempersiapkan perisai hati agar tegar dan enjoy melupakan kembang-kembang peradaban yang tak henti mekar merampok suasana nyaman berjomblo.

ABG alias anak begitu gagah, anak bapak gaul, anak banyak gaya, anak baru gede dan seterusnya akronim yang merujuk kepada kalangan remaja yang belum menikah. Sebagai konsekuensi pencitraan yang buruk, ABG selalu diasosiasikan dengan generasi boleh coba semua, kenakalan yang enerjik dan citra negativ lainnyaĜ² termasuk free sex, narkoba dan pangsa pasar kapitalis yang subur. Kecengengannya telah membuat para desainer produk kapitalis kreatif mengakomodirnya untuk memuaskan hasrat konsumeris serta menambah akumulasi keuntungan pada brankas-brankas kapitalis. Ia adalah bagian dari kehidupan kita, bahkan mungkin diri kita sendiri. Karena masa kini adalah masa coba-coba dan kecengengan sebagai senjata apologi yang ampuh untuk menekuk norma merobek titah, maka siapapun di dunia ini takkan mampu merintangi jemari mungilnya menjamah segala yang sorotan matanya sempat menyapanya. Dialah si ABG yang dalam kenyataan sosial sebagai kontestan yang paling besar jumlahnya memainkan peran yang sangat signifikan dalam bahtera umat. Masa depan umat akan berpindah secara estafet ke pundak-pundak mereka, karena itu pre-determined dalam mengawal dan membina spesimen umat ini menjadi tugas generasi non-ABG yang sangat berarti bagi deskripsi masa depan.

Memupuk Tauhid Sedari Hijau

Libido yang mengekang sebagai neuropatologis bagi setiap orang, khususnya ABG menjadikan pilihan-pilihan terapi psikologis dan mental menjadi pilihan altertnatif menjaga kesucian diri. Libido dapat membuncah menjadi energi yang destruktif atau dapat dijinakkan dan diarahkan kepada saluran-saluran yang potensial membakar dinamisasi dan progresivitas kreatif untuk tujuan-tujuan kampanye cinta dan ideologisasi pemaknaan cinta. Cinta yang dipilin energi spiritual mampu mengepakkan sayap Attar, berkontempelasi menguak tirai kefanaan, hingga sang Musthafa berkenan mengurai seloka Majnun yang berkubang dalam ketakberartian tubuh. Bukan cinta eros yang diidamkan sebagai sang pengemban titah luhur. Cinta yang picik.

Masokisme sebagai gejala psikologis Freudian yang menikmati suasana ketertindasan diri. Masokisme membawa sifat erotisme yang terpulaskan. Ia apatis atas setiap eksploitasi yang mampir. Sifat ini bisa dilacak pada sifat kekanak-anakan dan pemujaan tubuh oleh generasi ABG, tentu dengan tidak menjeneralisir persoalan. Masokisme bersetubuh dengan sifat narsisme yang mengidolakan keindahan dan kegagahan tubuh, baik gadis maupun perjaka, nona ataupun nyong. Centil, genit, seksi menjadi magnet ketika kenikmatan erotis menjadi candu dan memerlukan polesan-polesan bedak penanda ke-ABG-an. Sirnanya kesadaran diri tatkala memimpikan pendefenisian yang menggiring kepada dominasi makna eksistensial oleh si penikmat (tubuh) kepada pemilik tubuh. Didefenisikan dengan pengamatan berarti sirna nilai-nilai eksistensial kemanusiaannya.

Tutup auratmu, Aku Pria Normal

Tauhid sebagai pandangan hidup muslim senantiasa mengatur dan mengurusi serta menjelaskan tentang segala sesuatu yang melingkupi kehidupan manusia, mulai dari doktrin dan konsekuensi materil dan eskatologis syahadat, hingga problematika generasi muda seperti pacaran, trend berpakaian dan lain-lain cakupan secara universal. Mode berpakaian yang kini digandrungi sebagai kemenangan neoliberalisme mereformasi diri dalam pudaran kontestasi tanda yang sarat persaingan itu berefek, baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap kondisi umat Islam yang hidup dalam dunia yang penuh paradoks ini. Dari sisi tafsir ideologi Islam, hal ini membawa mudharat dan turut memperkeruh kesyirikan karena mengikatkan diri pada mode atau hasrat untuk memiliki sifat-sifat haywaniyah.

Zahra Rahnavard dalam bukunya Pesan Pemberontakan Hijab (2001) berusaha membangunkan ketiduran yang melenakkan bagi kaum muslimin, terutama kaum perempuan sebagai yang paling banyak jumlahnya. Dari ketidaksadaran bahwa ketidaksterilan interaksi antara kaum muslimin dengan budaya Barat, terutama komoditi ekonomi dan budaya produk kapitalisme menyebabkan terjadinya penyerobotan dan eksploitasi tanpa batas atas tubuh dan sensualitas perempuan. Ketika kaum perempuan memandang dengan penuh kekaguman dan menimbang bahwa kebangggaan memiliki tubuh yang indah dan sensual mesti mendapat apresiasi bebas bertubuh, kemudian tak ada batasan dan pengekangan atas kebebasan mengekspose dan menampakkan aura kemolekan dan kesuburan produksi tanda kecantikan yang mempesona, pada saat yang sama ada senyum tersembul dan gelak tawa penuh suka cita sambil terkekeh-kekeh dari pemilik merek-merek impor. Mereka sambil menyandarkan tubuh buncitnya di atas sofa empuk sambil menikmati tayangan layer kaca betapa bodoh dan mudah dijadikan sasaran produk kapitalis, masyarakat dunia ketiga. Perempuan direduksi maknanya menjadi sekedar sosok bertubuh indah dan mengandung potensi sensualitas yang laku untuk dikomodifikasikan.

Pesan yang disampaikan oleh Zahra Rahnavard kepada seluruh muslimah dengan retorikanya yang agitatif tentang peranan hijab dalam perjuangan melawan penghisapan dan penindasan kaum kapitalis-kafir, seakan menampik standar apriori yang menyudutkan posisi dan kelemahan kaum perempuan di tengah arus globalisasi yang semakin pervasive. Kaum perempuan (muslimah) harusnya menyembunyikan kemolekan dan keseksian tubuhnya yang pada dasarnya tidak halal menjadi konsumsi publik itu di balik hijab atau jilbab. Dengan proteksi semacam ini minimal segmentasi produk kapitalisme akan hengkang mencari celah yang lain dan bukan celah eksploitasi dan kapitalisasi tubuh, atau bahkan secara radikal menutup segala celah masuknya komprador kapitalis dalam dimensi social-kulturalnya dengan mekanisme proteksi yang baru.

Potensi sadisme yang intrinsik dalam kapitalisme modern membawa dampak yang menggila terhadap tatanan mikrokosmos (manusia) dan keteraturan makrokosmos (alam sejagat) baik secara langsung maupun sebagai efek domino secara holistik. Sadisme termasuk gejala nekrofilik Freudian yang bersorak-sorai kegirangan, mendendangkan genderang kepuasan tatkala menikmati parodi penindasan, eksploitasi, objektifikasi dan sebagainya yang sedang diratapi oleh orang lain sebagai objek sadisme. Kapitalisme ibarat sang kaisar yang menikmati penaklukan terhadap komunitas masyarakat yang anti takluk dan tekuk di bawah singgasananya. Ia akan meluap perasaan bahagianya ketika dijuluki sang penakluk yang berjiwa macan, sukses membunuh manusia-manusia yang 'bandel', tidak penurut. Semakin besar efek dan sasaran kerusakan yang timbul, semakin membuatnya berbahagia. Kapitalisme yang hegemonik dalam menguasai pangsa pasar ABG yang tersebar dalam jumlah yang sangat besar ini semakin membuatnya puas dan kepuasan yang pertama ini tidak akan mencukupi akibat hasratnya yang tak terbendung atas akumulasi modal.

Tauhid sebagai paradigma muslim dalam menggauli kehidupan adalah perisai luhur untuk mengadvokasi individu dan umat dari segala bentuk dan manifestasi kesyirikan. Kesyirikan mengejawantah dalam anasir dan manifestasi yang beragam. Termasuk kecentilan, keseksian atau pamer erotisme tubuh, masa muda masa coba-coba dan lain-lain yang menempatkan hawa nafsu sebagai tujuan utama atau tujuan sesaat menikmati usia muda sebagai ABG. Padahal sejatinya rel yang mesti digerbongi adalah sebagaimana petunjuk-petunjuk Ilahiah yang suci (al Qur'an dan al Hadits) yang telah memberikan titik terang batasan antara kebolehan berekspresi dan ketidakbolehan pacaran, berpakaian minim dan ekspresi lainnya.



Baca Selengkapnya...