Friday, March 07, 2008

igauan masa

Lipatan-lipatan sketsa masa yang kuremukkan satu-satu dalam komat-kamit memamah dalam-dalam sebagai yang mentradisi bagi tuntutan aktualita dari pencarian ataukah penelusuran kotak identiitas kemenjadian yang berseronok dekilan rupa tabu dan angkara noktah superego yang melumat dalam dengkuran tiranik, serasa mendulang jarak yang membuana saja kala aku memicing satu-satu helaian sketsa masa yang telah lewat, terbujur jauh sebagai lukisan sejarah yang memitos di geludukan apriori dan imaji ala tutorolog dan khaldunian ataukah notosusantian. Sejarah bagiku meluber jauh dari dekapan keringat Hegel yang menguap meninggalkan kisah arung-arung tak bertulang. Haru mengangker ...



Baca Selengkapnya...

Saturday, February 02, 2008

Pak Harto dan Pulau Buru

Saat mendengar kabar mangkatnya almarhum Pak Harto lewat RRI saat itu, naluri historisku langsung menyangkutpautkannya dengan bahan bacaan pada saat itu. Aku tidak terlalu bersimpati. Maklumlah saat itu, ketika aku menyetel frekuensi RRI di radio yang kugantung di dinding kamarku sekedar mencari-cari lintasan warta radio, kebetulan baru saja lewat dua jam dari hembusan nafas mantan Jenderal Besar Penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu, saat itu aku sedang serius dalam melafal bait-bait buku karangan pak Hersri Setiawan. Apa lagi kalau bukan Memoar Pulau Buru. Buku yang berisi catatan-catatan pengalaman Pak Hersri semasa menjadi tahanan politik (tapol) Pemerintahan Jenderal Besar soeharto dengan ideologi Pancasila itu. Pak Hersri ditahan sebagai tapol eks G30S/PKI 1965 dan dipenjarakan di RTC (Rumah Tahanan Civil) Salemba dan RTC Tangerang sebelum diperbudakkan di Pulau Buru, sebuah pulau yang kini telah bernama Kabupaten Buru di Provinsi Maluku. Kembali ke Pak Harto. Sore itu komat-kamit reporter RRI mengerubingi gendang telingaku dengan berderet prestasi sang almarhum, terus dan seperti tanpa diimbangi dengan jejak prestasi buruknya. Saat kepalaku masih segar dalam petualangan berempati atas nasib ribuan tapol yang digerayangi tanpa ampun seluruh hak kemanusiaannya, saat itu aku diajak berempati terhadap sang jenderal.


Selama masa kediktatoran militeristik kapitalistik pasca kepemimpinan NASAKOM-nya Bung Karno, Indonesia jatuh ditalang limbah kemelaratan, tangis kepiluan dan sayatan sadis pelanggaran hak asasi manusia (HAM) atas rakyat-rakyat penghuni gugusan pulau berkekayaan melimpah ruah. 32 tahun selama menjabat, kebijakan sang raja jawa ini sangat bertentangan dengan asas hukum tertinggi negara, UUD 1945, khususnya distribusi kesejahteraan sosial dan aspek keadilan sosial (pasal 33 UUD 1945). Kekayaan bangsa dilego pengelolaannya kepada pihak asing. Puluhan perusahan multinasional eksprorasi dan eksploitasi minyak dan gas alam dan mineral berharga lainnya, seperti Shell, Exxon Mobile, Freeport, British Petroleum, Newmont dan lain-lain diberi kemudahan mengeruk lahan ekonomis milik hajat hidup bangsa. Tercatat lebih dari 90% kepemilikan saham atas nama Freeport untuk penambangan mineral berharga di Papua barat. Sementara pemerintah kita hanya berhak atas setoran royalti yang sangat sedikit serta dari hasil investasi saham yang hanya sekitar 9% itu. Terlampau kecil untuk ukuran lahan eksplorasi tambang sekaya Papua. Ini tidak adil dan betul-betul membuktikan ciutnya nyali pemerintah kita, terutama bapak pembangunan itu di hadapan Amerika Serikat sebagai negara tempat bigboss Freeport bersarang di New Orleans. Gila. Kegilaan ini ditambah lagi dengan pengecutnya pemerintahan SBY-JK yang memberikan (gratis) eksplorasi ladang gas alam di blok Natuna kepada Exxon Mobile, dimana pada Desember 2006, ketika George Bush(hett) mau berkunjung ke istana Bogor, sehari sebelum itu SBY sebagai 'anak manis' terbang tergopoh-gopoh ke Natuna untuk mempertegas kontrak gratis pengelolaan blok kekayaan pasal 33 UUD 1945 kepada pihak Exxon Mobile. Alhasil, posisi saham pemerintah di sana hanya nol persen, artinya 100% hasil eksplorasi gas alam yang melimpah itu seluruhnya terhisap percuma bagi kaum TNCs kapitalis asing Amerika Serikat, sedangkan bangsa ini hanya kebagian limbah saja. Sekali lagi, GILA...!!! Ini belum terhitung kebobrokan pemerintah saat Exxon Mobile mengeliminir posisi Pertamina dalam mengeksplorasi ladang minyak di blok Cepu, dekat Blora (Jawa Tengah) dan Bojonegoro (Jawa Timur). Dengan dalih inefisiensi manajemen internal, Pertamina tidak diperbolehkan mengebor minyak, namun Exxon Mobil-lah yang harus diistimewakan. Akhirnya konspirasi minyak ini ujung-ujungnya adalah privatisasi, liberalisasi menuju agenda globalisasi neoliberal menjiplak anjing-anjing WTO, IMF, World Bank dan USA dan kawan-kawannya. Negeri ini telah digadaikan oleh pemimpin-pemimpinnya yang ternyata mereka adalah komprador modal alias cecunguk Amerika Serikat. Pecundang dan pengecut sekalian. Melawan Amerika Serikat saja takut. Ketakutan pemerintahan SBY-JK terhadap penguasa negeri Paman Sam itu terlihat saat George Bush(het) mampir sebentar di Bogor. Betapa sibuknya pemerintah sampai menyiapkan hellipad dan pembenahan istana yang biayanya miliaran rupiah. Tak pernah dalam sejarah kepemimpinan bangsa ini yang bermental budak seperti kali ini. Sangat memalukan. Kita sebagai kaum muda harus marah, oleh karena presiden adalah jabatan simbolik politis dari nation kita. Perilakunya adalah representasi kita semua. Sikap blo'onnya akan memalukan kita semua. Harga diri bangsa kita tercederai di tangan seorang presiden yang bermental cecunguk. Cecunguk itu istilah para tapol Buru di tahun 70-an bagi mereka yang suka menjilat penguasa.

Kemelaratan secara meluas di negeri ini haruslah dipungkasi sesegera oleh putra bangsa sendiri dengan jalan mengambil kembali (nasionalisasi) hak milik, hak kelola dan hak distribusi profit atas seluruh industri mineral (minyak, gas alam, tembaga, nikel dll), kehutanan dan indutri eksplorasi sumberdaya alam lainnya yang tersebar 'liar' di negeri ini, dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah harus bercermin kepada Evo Morales yang ketika terpilih menjadi presiden Bolivia pada 2006 lalu, kurang dari sembilan bulan telah terjadi perubahan-perubahan cukup besar yang signifikan bagi transformasi kesejahteraan yang timpang dalam waktu lama serta distribusi keadilan bagi rakyat Bolivia yang mayoritas suku asli Indian. Selang beberapa pekan setelah Morales dilantik, presiden yang semasa mudanya sampai detik-detik mau dilantik itu adalah seorang aktivis sosial pembela hak-hak petani koka yang menjadi tanaman tradisional sejak dahulu nenek moyang bangsa Indian, jauh sebelum kedatangan kolonialis Spanyol pada abd ke-16, seluruh industri tambang yang mengeklsplorasi mineral-mineral berharga di negeri yang masuk kategori termiskin di Amerika Latin itu langsung dinasionalisasikan dengan tegas dan memberikan ancaman pengusiran kepada kapitalis-kapitalis asing itu apabila menolak. Sukses Morales mengambil alih industri tambang milik Bolivia itu dan ditambah dengan kebijakan-kebijakan populis lainnya seperti alokasi setengah gaji presiden untuk sektor pendidikan dan kesehatan yang diikuti oleh para menteri kabinet dan anggota parlemen serta Land Reform, membawa Bolivia ke tampuk perbaikan nasib rakyat. Morales tidak sekedar berretorika. Dia berpihak langsung kepada rakyatnya yang telah lama dirundung penghisapan perusahan-perusahan transnasional dan akumulasi lahan pertanian di tangan beberapa elite penguasa dan kelas kapitalis. Moralis tak tanggung-tanggung menantang Amerika Serikat dengan penguatan politik berintegrasi memperkuat blok perlawanan bersama beberapa negara sosialis di Amerika Latin. Sikap Morales ini sangat terbalik dengan presiden kita yang masih saja takut kepada Amerika Serikat padahal seorang jenderal tentara. Parlemen Bolivia 180 derajat di atas parlemen kita yang beberapa waktu lalu meminta kenaikan tunjangan kinerja Rp. 10 juta di saat harga BBM melambung tinggi di tahun 2005.

Kembali ke pak Harto dan Pulau Buru. Oleh karena prioritas kestabilan politik dan keamanan, maka seperti diulas oleh DR. Asvi Marwan Adam bahwa tapol yang mendapat giliran Pulau Buru adalah tapol tipe B, dimana tipe ini dibelenggu tanpa pengadilan, karena asumsi penguasa ORBA yang ketika itu kendali urusan proyek Pancasilaisasi pulau Buru diserahkan atas kendali Jaksa Agung saat itu, tapol-tapol tipe B adalah mereka yang bukan gembong utama dan pokoknya yang terindikasi Gestapu, Gestok atau PKI. Mereka tidak diadili, namun akan direhabilitasi menjadi insan-insan Pancasilais. Pulau Buru tempatnya. Tapol tipe A dihukum mati, seperti DN. Aidit, Njoto dan lain-lain. Dengan mem-Burukan ribuan tapol 'merah', potensi instabilitas dalam negeri dapat dikikis, prasyarat masuknya investasi asing untuk proyek besar pembangunanisasi dan jawanisasi ala burung garuda. Era 1970-an adalah etape penancapan pondasi pembangunan dengan agenda periodik REPELITA yang diusung di bawah platform trilogi pembangunan. Kebijakan pembangunan ala Soeharto membuka keran investasi asing besar-besaran dengan mengintegrasikan dengan desain paradigma modal. Akhirnya selama Repelita itu banyak dana dikucurkan sebagai bantuan pembangunan yang kemudian hanya menjadi objek korupsi penguasa, keluarga, kroni, konco dan coro-cecunguk ORBA. Trickle Down Effect sebagai strategi pembangunan ternyata gagal memulihkan kemsikinan jutaan rakya. Lebih banyak dari kebijakan pemerintah adalah mengikuti logika pasar bebas dengan salah satunya meratifikasi konsensus Washington pada 1980 tentang liberalisasi keuangan, perdagangan, deregulasi perdagangan dan impor dan lain-lain. Ada segelintir elite di negeri ini yang kekayaannya menggunung, sementara jutaan rakyat tertindih beban kemiskinan. Banyak problem menimpa rakyat, mulai dari kemiskinan, pengangguran, sekolah mahal, biaya berobat mahal, harga BBM mahal, kegagalan panen, efek negatif pupuk, insektisida dan herbisida sintesisi, degradasi ekologis akibat efek global warming , illegal logging, kekeringan, banjir, busung lapar, keracunan limbah pabrik, tergusur akibat pembangunan mall, properti kaum pemodal dan berjuta masalah lainnya. Ini semua adalah tetesan emisi kebijakan jahiliyah dari pemerintah negeri ini yang tidak memihak kepada rakyatnya. Kembali lagi ke Pulau Buru. Ribuan tapol dikangkangi dimensi kemanusiaannya pada dekade 1970-an. Mereka diposisikan bukan sebagai manusia, namun sebagai masing-masing nomor kode yang tercetak di baju dan celana. Waktu berlalu sambil bersaksi atas tontonan perbudakan yang menyata. Akhirnya atas desakan internasional (menurut Asvi M) dan pergeseran konstelasi politik nasional saat itu, tapol-tapol ini dipulaujawakan pada penghujung 1970-an namun dengan luka yang teramat dalam. Mereka masih mendapat stigma eks-PKI. KTP mereka ada kode ET (eks tapol). Haru biru dan sadisme tak terperi yang dialami ribuan tapol rakyat Indonesia yang sempat dulu berafiliasi kepada salah satu partai politik yang sah, PKI, kini berlalu menyisakan kisah duka yang sungguh ironi dengan visi kemanusiaan pembukaan UUD 1945. Ratusan tapol telah tekubur di pulau itu sebagai korban penganiayaan dan pembunuhan yang direstui penguasa. Pada akhirnya jualah sejarah akan selalu menyulam kanvasnya dengan darah para martir dan syuhada. Hormatku buat segenap kerabat tapol yang berduka di tepian sejarah.


Baca Selengkapnya...

Tuesday, January 29, 2008

Beginilah Pilihan

Aku selalu bingung. Bingung kalau ingatanku menoleh lagi. menengok arsip perkaderanku di HMI (MPO). Selama ini aku mencari wadah pelarian. Mencari penyambung aspirasi dan nalar berorganisasi. Mencari kesibukan lain. Asal jangan urusan hijau hitam. Aku kadang merasa bersalah. Sering pula jengkel. Bersalah dan jengkel berganti-ganti. Tergantung mood dan cuaca apa di tamalanrea. Tahun lalu aku dipecat di HMI. Yaa dipecat bukan lantaran tindak kriminal. Bukan karena aku menjual HMI untuk proyek. Bukan pula karena aku merampok kekayaan harta HMI di tangan bendahara. sekali lagi bukan karena aku korupsi. aku dipecat dengan dalih yang lucu dan tolol. Aku dipecat dengan argumen yang bagiku contradictio in terminus. Aku dipecat pada Februari 2007.


Mula-mula aku tidak begitu terbebani dengan masalah ini. Tidak terbebani lantaran pada saat itu aku ikuti langkah kawan-kawan se-gerbongku. Langkah yang bagiku pula terlalu naif karena menolak melakukan banding sebagaimana mekanisme dalam konstitusi Kongres Palu. Saat itu aku ikut termakan euforia yang nantinya kebablasan juga di bilik tahun berikutnya. Aku betul-betul bingung. Batinku komat-kamit ingin meludahi dua carik kertas SK pemecatan itu. SK pemecatan yang argumennya teramat lemah. Kentara sekali aura pertarungan dan intervensi kepentingannya. Ibarat skenario drama, bagiku keputusan pemecatan itu sudah di tangan tinggal dicari alasan-alasan dan rasionalisasi ini itu sampai dengan Tim Investigasi (seperti kriminal di TV). namun itu hanya untuk menjadi bahan penguat keputusan yang sudah dipatok itu. sebenarnya waktu itu mau kuajukan surat bandingku ke sana (sekrettariat tempat SK itu keluar). Tapi lagi-lagi aku termakan euforia kawan-kawan yang salah perhitungan menolak banding .Akhirnya memang betul, yang namanya hitam di atas putih harus di-counter pula dengan hal serupa, bukan dengan cara verbal. Akhirnya setahun telah berlalu.


Aku masih bersikukuh akan kelemahan SK itu. Tapi apa daya SK itu masih tetap berlaku kekuatan hukumnya. Masih legitimate atas status keanggotaanku yang dicabut. Satu-satunya cara untuk kembali menjadi anggota HMI sesuai konstitusi adalah ikut BasicTraining ulang. kembali mulai dari nol setelah empat tahun menjadi kader. aku yakin SK itu sangat lemah, namun rupanya dugaanku terbukti. Karena wacana sengketa kepentingan membuntuti tragedi pemecatan 13 kader aktif termasuk.aku. kupikir dipertimbangkan untuk didaftarkan ke MURI sebagai prestasi memecat kader. Tepuk sorai dan gegap gembira harus mengiringi totolan stempel pengesahan pemecatan itu. Pemecatan yang tendensius tanpa teguran keras keq, tamparan awal keq, langsung saja main sikat, PECAT...!!!! aku teringat kisah kaum Yahudi dalam literatur yang pernah kujumpai. Bahwa untuk mereka, syari'at Musa as menjadi niscaya tegas, kaku dan 'sadis'. Cara bertobat saja harus bunuh diri. begitulah nasib yahudi yang sangat kaku dalam memvonis. lain Yahudi lain Kristiani. Isa as mengemban risalah kelembutan, kasih... Muhammad saw sebagai al wasath, antara keras, tegas, 'sadis' dengan kasih dan kelembutan.antara syariat Musa dan syariat Isa. batinku meledek, bukankah syariat Musa sudah kadaluarsa..? masihkah cara itu ada dan dipraktikkan di zaman postedan ini..?


Waktu terus berputar.... Kongres Palu pun telah berestafet ke Kongres Jakarta Selatan beberapa bulan lalu. tentu aku ahistoris kini dengan konstitusi baru. Namun itu tak menjadi soal. oleh karena pemecatanku menggunakan konstitusi Palu yang sebenarnya saat itu aku menjadi intens mengkajinya, terutama yang berhubungan dengan soal-soal kepemecatan, kestatusanggotaan dan pendirian sebuah cabang HMI yang baru. untuk yang terakhir inilah alasan aku dipecat. Sayang...aku dipecat lantaran mendirikan sebuah cabang baru. aku dipecat gara-gara HMI Cabang Makassar Raya dideklarasikan pada Februari tahun kemarin. mudah-mudahan ada yang membaca tulisan ini kemudian melaporkannya kepada si Mr. Pecat. Tapi masalahnya pecat itu sudah basi. orang sudah bukan anak HMI koq!!! bisakah non anggota HMI dipecat lagi..? kayak ORBA saja. lawan asas tunggal siap penyok diinjak sepatu laras atau di-PulauBurukan. mendirikan sebuah cabang HMI untuk memperluas jaringan HMI itu sendiri malah di'Boven Digoel'kan. Bingung.... Kalau begini jadinya, maka aku mendapat sebuah pelajaran nyata. Bahwa manusia, siapapun orangnya belum tentu adil dan arif bijaksana dalam sikap dan apalagi sebuah keputusan. Walau dia sendiri terlampau yakin akan keadilan dan kebijaksanaannya. Karena kuyakin bahwa pelajaran ini mengajariku satu hikmah. Bahwa keadilan dan kebijaksanaan yang dijamu kepada kita kebanyakan hanyalah imitasi. Dacing simulakrum. Biarkanlah hal ini menjadi guru berharga bagiku...Semoga kawan-kawanku yang masih aktif di HMI tidak dipecat lagi lantaran berbeda pendapat dengan pemegang kekuasaan. Lawan otoriterisme di mana saja...! Sappere aude...!


.

Baca Selengkapnya...

Tuesday, January 15, 2008

Bisik Betuah Ibu

Wajah dan rambut ikalku senasib. Kering. Pakaianku lusuh, jarang mandi sore dan puasa banyak kali dalam tiap pekan bukan demi menghidupkan sunnah, namun karena kere. Dompet hanya tinggal sisipan kartu anggota sebuah organisasi kemahasiswaan ternama di kota ini serta kartu mahasiswa yang tinggal sepotong saja melengket tak terurus bersama KTP. Uang habis. Memang sudah menjadi tradisi pemakaian uang kiriman dari kampung, tak lama saat kukeluarkan beberapa lembar pecahan uang kertas di ATM, aku bergegas ke toko buku dan kutumpahkan nafsu bacaku di sana dengan tanpa pikir panjang, kusetor bayaran beberapa buku dan aku bergegas menuju kamar kost. Biasanya lebih setengah jatah kirimanku ludes di toko buku. Aku kecanduan, tak bisa kutahan hasrat itu. Selalu kurasa puas kalau telah mendapatkan buku. Buku dan buku itulah targetku. Targetku membaca sebanyak mungkin buku di kota yang telah lama kuhirup udaranya. Daun pintu menderit, kubuka pintu kamarku lalu tubuh yang kehujanan saat pulang ini madah hingga terlelap di atas tikar pandan yang kubiarkan pasrah di lantai. Aku terkejut bangun saat seseorang mengetuk pintu, kebetulan tetangga sebelah yang mengingatkan kalau sudah magrib. Tanpa mandi, kubasuh muka dan menyikat gigi, kusempatkan berwudhu di kamar mandi lalu bergegas ke surau yang tak jauh. Aku berjamaah seperti telah rutin. Di luar surau rintik hujan meniris atap satu-satu. Saf jamaah lurus dan henyuk dalam zikir dan doa. Shalat maghrib usai. Aku merenung dan pikiranku melayang ke pendulum waktu enam tahun kemarin. Hayalku terpancing. imajinasi meliuk liar. Memoriku berusaha membalik lembaran hidupku yang tidak begitu istemewa, biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan.


Rumah tua itu selalu hening di malam hari. Lampu balon kuning sekedar tak membuat penghuninya meraba bak gua hantu. Ala kadarnya. Rumah peninggalan kakek yang dibangun pada masa kolonial Belanda dahulu. Ruangan berlantai tanah liat yang dipadatkan dan memilki tiga kamar yang masing-masing dihijabi tirai pintu dari kain bermotif bunga persik, menjuntai lurus tak bergeming. Dapur yang mengandalkan kayu bakar untuk mengepul berukuran lebih besar sedikit dari ukuran kamar kostku sekarang. Aku tinggal saat itu bersama kedua orang tuaku yang paruh baya dan dua orang adik yang duduk di bangku SD. Kakak sulung laki-laki saat itu sedang di rantau. ia menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit di salah satu distrik di negeri jiran. Tinggallah kami berlima hidup dalam rutinitas yang biasa-biasa saja layaknya orang kebanyakan.

Pendaran sinar lampu philips tak harus memaksa mata ini melotot. Kududuk menghadap dinding bercat kuning gading sambil jemari kanan merekam pijar-pijar rasa dan rubungan pikir yang mengendap di batok apriori selama terawangan imaji lagi pulang kampung. Kuurai kembali benang kenang yang menyusut kusut di balik laci rindu. Aku menulis puisi lagi menemani malam hening sampai larut, seperti biasa sambil memamah rongsokan aksara di bebalik lembaran buku-buku. Di kamar ini kabut mimpi mulai kusekap satu-satu. Hayali mampir bersolek sapa beragam rupa kaya rasa memburam sepi. Aku masih duduk dan mengingat-ingat masa lalu. Kamar ini terasa dekat dengan masa lalu. Aku membalik halaman berikutnya bab setrusnya seperti biasa kunikmati padang aksara sarat makna. Kali ini rasa kantuk menyapa saat kulihat jam weker hampir bunyi di angka empat. Aku belum tidur juga. Namun yang lebih membuat tubuh kurus ini betah berlama-lama dalam pekur di malam hening dengan gurauan satu dua nyamuk ini adalah kenikmatan mengulangi dan mengulang kembali perlahan-lahan saat aku menemukan pita memori itu walau tak berdebu sarang laba-laba. Keping memori sederhana sebagai tutorial pedagogis yang amat berarti dalam peselancaran diri mencari jati diri identitas sebagai orang yang tak sekedar memilih mengada sebagaimana diwanti-wanti Martin Heidegger. Aku merasa begadang kali ini merefresh sebuah sketsa ulang makna hidup yang terlanjur susur dan luncur lalu liuk kiri kanan atas bawah dalam titik lalu koma dan tanda seru kemarin, ya, baru saja dan sudah lalu sampai saat aku melihatnya kembali. Ini soal bisikan. Ini bicara mengenai amanah. Ini tentang emban titah. Ini adalah bisikan yang bertuah. Bagi diriku sendiri karena aku tak mau memaksakan untuk siapapun, karena ini kasetku degup masa laluku. Apa yang aku rasakan adalah kenangan yang punya tuah atas pilihan sikap saat ini. Atas cara hidup. Atas prinsip menatap masa depan. Atas asas berikrar tetap pada keputusan untuk banyak pilihan untuk menawar. Sebuah prinsip yang tak relevan seandainya aku tak berada di sini. Kalau saja aku hanyalah ana-anak kebanyakan, pemuda awam yang konsumtif hedonis materialis dangkal wawasan picik pandangan sesat konservatif fanatik alias terkungkung dalam tempurung-tempurung fatalisme berkepribadian sempit. Kalau saja aku masih tinggal di sana di kampung yang nyaris bangkrut peradaban moral dan pendidikan akhlaknya itu. Kampung yang penuh paradoks ladang opium buta ilmu kebun syirik emoh ayat-ayat langit nan suci. Kalau saja aku masih saja menekuni hobi rutin sepak bola di sore hari setelah itu malam hari tak punya jadwal produktif bagi perenungan kemanusiaan dan amal baik. Malam yang hanya ada satu kata. Pesta. Malam yang jahat sungguh bejat meruntuhkan pelan bahkan dengan berang buas tak disadarai ataukah pembiaran saja dari semua yang berwenang itu, pembiaran remuk angkara meluluh runtuhkan dinding pondasi nilai diri manusia. Moralitas digasak tarian-tarian ala feodalis borjuis kapitalis lewat malam-malam tak berujung henti. Malam dengan pesta pora seperti binatang buas mencabik merobek titah dan harga diri nilai-nilai hati nurani. Dagelan malam diiringi denyut musik hingar-bingar ramai mampus penuh anak muda bernau mulut alkohol tipe pabrikan bermerek adakala cap pohon sagerru busuk. Muak, jijik, najis, kencing, taik kotor, jauh dari beradab apalagi Islami. Betul-betul edan. Jahiliyah di jaman majunya teknologi. Keseronokan yang diumbar-umbar dengan penuh bangga meluapkan pesona ala kampungku yang malang dirudung durjana kezaliman tak berelan vital amar makruf nahi munkar. Betul-betul jahannam. Najis ditelan dibilang biasa-biasa saja apalagi untuk modus relasi. Kalau saja aku masih di situ saat itu bahkan saat kini yang konon kabarnya aku mendengar informasi terakhir dari kampungku semakin tambah runyam parah naas. Moral menjadi comberan tak dipandang punya ujud yang dekat dengan diri paling hakiki. Moral telah jadi belulang. Kalau saja aku masih di sana, aku tak dapat duduk merenung sambil membaca dan merangkai kata-kataku meniru tradisi para jagoan kata di lembaran bacaan menuangkan gejolak, harapan, mimpi dan elan vitalnya berinteraksi mencumbu dunia.

Memang aku punya nasib sedikit lebih baik tapi bukan mentereng. Semenjak sekolah dulu tak ada lagi asa untuk melambung gunung meloncati samudera menuntut ilmu di seberang lautan seperti sekarang ini. Cita-cita kuurung demi realitas dan persembahan bagi kesadaran berkaca pada kemampuan ekonomi. Aku dulu mempelajari Adam Smith untuk tidak berhenti kerja keras namun aku tak menelan mentah bisikan bisu lewat tautan aksaranya untuk berwatak kapitalis merkantilis. Aku dulu meredam harapan itu karena orangtuaku masuk cover buku Eko Prasetyo, Orang Miskin dilarang sekolah. Hanya saja kesempatan itu pun datang bak mentari menyembul dengan sunggingan penuh ceria kepada banjir bah dan genangan berminggu-minggu di banyak tempat di negeri seribu musibah ini. Puji Tuhan alhamdulillah. Harapan mekar kembali saat aku bisa lanjut sekolah seperti kutemukan diriku saat aku bernostalgia. Kakakku dapat rejeki bekerja lalu gaji itu sebagian untuk seadanya biaya belajar di kota. Kebetulan perbedaan kurs mata uang yang membuat ukuran upah buruh kakak sedikit besar nominalnya dibanding gaji pegawai pemerintah kabupaten di kampungku juga yang untuk bekerja di sana terpaksa menyogok banyak untuk mendapat status sosial penyangga ekonomi prestise dan seterusnya. Pikiran berhembalang mengurai pita memori yang sedang berputar sedangkan tarhim subuh hampir usai. Satu hal yang sangat berpengaruh, yang menjadi elan vital dan spirit anakmudaisme adalah bisik betuah dari ibu kala itu. Ketika malam terakhir aku bersama beliau dengan bapak dan adik-adik. Ibu yang futuristik rupanya memperkaya bapak yang penyabar. Saat duduk di hadapan keluargaku di malam itu, ibu berpesan sedikit sepatah dua ucap saja setelah bapak memberi nasihat secukupnya. Kusebut itu bisik betuah ibu. Aku terkesima saat ini saat kukenang. Memang bisik betuah itu dulunya saat gendang telingaku merekamnya tak begitu kupikir penting malah biasa-biasa saja. Aku merasa saat ini perjalanan anak mudaku adalah penyingkapan makna dari misteri bisik betuah ibu. Hari demi hari berlalu, tahun berganti dan semester kuliahku makin bertambah dekat dengan penghujung akademik. Perjalanan proses pemenjadian yang sarat lika liku suka cita terjal curam indah buruk haru senang benci khawatir curiga bangga masygul kecewa hancur bangkit lagi dan seterusnya makin memperkaya batin si pencari. Aku menyingkap makni itu lewat ragam laku hidup dan penemuanku atas karakter dunia yang serba rumit beragam membingung tak lupa. Bisik betuah ibu kala ibu berpesan , pergilah belajar lebih dalam lebih luas lebih tinggi dan jangan lupa pecahkan tempurungmu. Tempurung diri yang mengungkung emansipasi kritis. Tempurung yang membangung dinasti tirani logosentrisme seperti kata Michel Foucoult. Tempurung yang mengisolasi diri dari meluaskan wawasan dan memperbanyak kawan saudara dan ukhuwah. Tempurung yang membuat diri jumud memmmbuat diri jatuh dari tangga malaikat menuju limit binatang yang dilaknat. Tempurungisme anak muda. Pecahkan tempurungmu nak.

Baca Selengkapnya...