Terkadang orang salah mempersepsikan konsep anarkisme. terkesan chaotik,lawless etc... anarkisme sdh mnjadi mainset sebagian dari sejarah sosial d beberapa t4 d eropa n latin ameriko,dia berkembang memang berdasar lokus konteks sosial politiknya di sana. walau begitu, adopsi tdk jd soal, karena di mana2 itu adlh lumrah saja. anarkisme hijau misalnya, mirip2 dngn konsep community forestry(CF) d filipina n indonesia (but bukan a la HKm yg reduktif n pemerintah bangget itu, hehee...) CF d indonesia masih malu2 kesannya u/ diterapkan. pemerintah masih mendua. karena blundernya pada soal alas hak atas lahan (tenure compleks ). di chiapas meksiko lebih maju karena domain hutan n lahan dipagari betul dri pemerintah. di situ tak berlaku aturan pemerintah.uniknya, mereka bisa mengelolanya dng baik, kerusakan tdk bakalan krn tak ada akses korporatokrasi ke dalamnya. tak seperti di indonesia, pemodal main babat sana sini, pemerintah yg kuatkan legalitasnya, lalu rakyat pemilik negara ini tersisih, miskin2. hancurnya lagi, kelas intelektual (teknokrat, akademisi)menjadi selingkuhannya, hahahaaaaaa.....
Anarkisme pada prinsipnya adalah anti sistem, anti aturan, anti birokrasi, anti yang namanya keberadaan pemerintah. bukan berarti amburadul. Anarkisme memang begitu. Biar begitu, ada mekanisme yg dibangun sendiri secara internal untuk 'meregulasikan' solidaritas mereka atas sektor produksi ekonomi dan keegaliteran sosialnya tapi berbeda dng realitas birokratisme dan instrumentalisme yang umum. konteks kehutanan indonesia, sejarah membuktikan bahwa banyaknya regulasi dari pemerintah sejak tahun 1960-an sampai sekarang dlm bidang kehutanan selalu saja memarginalkan komunitas rakyat penghuni hutan, padahal secara hukum adat hampir setiap jengkal tanah di indonesia ini sudah terbagi habis buat rakyat.kasus Dongi2 Sulteng, kasus batas lahan Kepong Damar Lampung,Jambi, Kaltim, dll adlh bagian dari potret pemarginalan rakyat oleh pemerintah. banyaknya regulasi itu lebih kepada pelayanan yg manis kepada pihak pemodal hutan, tambang dan kebun sawit. mono interpretasi hak domain lahan menjadi sindrom akut yg diidap oleh pemerintah sejak dulu sampai sekarang.
Maka berikan saja hutan itu kepada rakyat, kepada komunitas adat biar mereka sendiri yg menentukan masa depan bumi dengn kearifan2 konteks lokalnya tanpa aturan pemerintah. sok modern-nya pemerintah dng dominasi tools, instrument n positivical methodic-nya sebenarnya yg mendesakralisasikan alam yg ujung2nya petaka yg d saat sekarang baru (seolah-olah) muncul policy, regulasi dan proyek baru untuk me-re... setelah meng.... anarkisme memberi arti bahwa komunitas adat dan rakyat yg menghuni dan memanfaatkan hutan di tanah air sebenarnya tdk membutuhkan negara ini. Tdk adanya negara, hutan dan kehidupan mereka yg harmonis dng alam tetap mesra dalam kearifan. Akan tetapi fakta memberi kita pelajaran bahwa semenjak ada negara, lembaga sosial kultural rakyat didekonstruksi menyeragam dalam monokulturisme feodal Jawa. Tanah dan hutan yg menjadi langgam hidup rakyat direbut dng power oleh negara atas nama pembangunan. so,kehadiran negara berarti ancaman bukan rahmat bagi rakyat.Karena itu, (jangan terburu-buru, hehe...) bubarkan NEGARa ...?
Saturday, November 01, 2008
Anarko Hutan Rakyat
Friday, October 10, 2008
Kutemukan Marx di Kampung
Temaram pelita minyak tanah itu sudah lama tak kulihat menerangi malam di ruang tiga kali lima berdindingkan pelepah gaba-gaba milik nenek. Anak-anak tak lagi berdesakan melantai di rumah tetangga demi menonton Ultra Man dan Kuuga. Bayangan itu mungkin masih ada apabila dunia tak secepat ini melipat waktu. Mungkinlah bisa kulihat sketsa hidup kesederhanaan komunal itu sepuluh tahun lalu atau lebih. Sekarang semua sudah berubah. Malam tak membunuh lagi dengan gelapnya. Anak-anak tak sekompak dulu dalam keorganikan perilaku. Mereka dihimpit egoisme televisi, playstasion, handphone, style punky dan gincu sana-sini
Ada teman yang memberitahu hal yang sedang bergeser itu. Pergeseran mengenai perilaku masyarakat di kampung. Ketika cabe dan garam sudah tak seperti dulu lagi bisa kita minta dari tetangga sebelah rumah. Ketika ada orang kaya baru yang sibuk buntutnya memamerkan kekayaannya di hadapan mata, padahal ia tetangga kita yang dulu sama-sama merasakan remuk redam hidup. Ketika setiap anak negeri ini yang dikirimkan orang tuanya menimba ilmu di seberang lautan sebagai prestise keluarga, banyak dari mereka semakin keblinger dan konyol dengan kepicikan pikirannya membawa masuk anarkisme nilai tanpa ba bi bu. Dunia moral dilabrak tanpa reserve. Yang ada tinggal puing-puing nalar kampungisme menjadi sabda sakral di batok apriori.
Perkembangan transisi ekonomi-politik beberapa tahun belakangan yang sangat drastis implikasinya atas tatanan kehidupan masyarakat secara makro di tanah air, terutama setelah muncul surga-surga baru di daerah pada masa desentralisasi ini, dalam skala ril di aras masyarakat kita terjadi banyak perubahan, terlebih pada hal-hal yang sangat tampak dan dekat dengan kehidupan keseharian. Desentralisasi pemerintahan yang membawa kabar baik secara konseptual bagi distribusi kesejahteraan secara egaliter yang bisa menyentuh seluruh sektor masyarakat di daerah, di kampung-kampung , kini dalam rupa keseharian masyarakat memperlihatkan ada yang match dari geliat tersebut. Ini bukan berarti justifikasi realisasi telah betul-betul terjadi, malah bisa dipastikan hal itu dalam kenyataannya masih jauh dari yang semestinya. Yang match dalam hal ini implikasinya mempengaruhi sampai kepada roda ekonomi lokal tingkat desa untuk, entah itu adalah efek yang menggairahkan kemajuan ataupun efek yang kontraproduktif.
Kampung yang masyarakatnya sebagian besar petani cengkih, kelapa, pala, buah-buahan, sagu, kabong kasbi, kaladi, patatas dan lain-lain non padi, kini mulai mengalami pergeseran mata pencaharian karena faktor harga pasar komoditas cengkih- pala yang kurang bagus, tak sebagus sebagai tanaman primadona incaran kaum petualang laut plus penjajah Belanda dan Portugis di abad ke-15 dan 16 dulu. Harga cengkih telah jatuh. Bahkan cengkih di Maluku pun sudah harus bersaing dengan tanaman cengkih di Jawa dan Sulawesi. Selain cengkih, harga pala pun selalu berfluktuasi disamping jumlah tanaman pala tak sebanyak cengkih, walaupun tanaman cengkih yang dimiliki oleh masyarakat Pelauw pun tak sebanyak yang ada di Pulau Seram dan Pulau Buru. Sagu sebagai sumber karbohidrat dan tanaman yang menjadi lumbung pangan pokok masyarakat Maluku jaman dulu dan sebagian jaman sekarang, kini jumlahnya sudah semakin berkurang. Tanaman sagu yang dimiliki oleh masyarakat Pelauw sekarang ini sangat sedikit dibanding sagu di Seram dan tempat lainnya. Bahkan sagu selalu didatangkan dari luar Pelauw untuk kebutuhan konsumsi di Pelauw. Sedangkan dibanding sagu dengan nasi, masyarakat Pelauw tampak lebih banyak mengonsumsi nasi ketimbang sagu. Ini berarti defenisi makanan pokok itu masih bisa didefenisikan ulang.
Masyarakat di kampung bercocok tanam kabong sebagian besar hanya bersifat subsisten, hanya demi konsumsi keluarga, bukan tujuan produksi mendapatkan nilai keuntungan ekonomis. Subsistensi inilah yang menjadi bagian dari sistem hidup agraris-komunalis-tradisional, membawa implikasi pada semangat hidup kekeluargaan dan non komersial. Pola ini bertahan pada masyarakat dan dalam perjalanannya menunjukkan interaksinya dengan faktor eks dari mobilitas ekonomi, sosial dan politik di luar masyarakat yang melingkupinya. Yang terakhir ini yang dimaksud di atas sebagai implikasi pervasifitas transisi kehidupan sosial politik beberapa tahun terakhir pasca Reformasi tahun 1998. Sekarang pola kehidupan yang tradisional dan komunalis mulai bergeser menuju masyarakat berwatak materialistis-modernis-individualistis.
Ternyata Karl Marx benar ketika menyatakan bahwa mind of man bisa dideterminasikan oleh faktor materi, yakni bagaimana keadaan produksi ekonomi yang mengkonstruk mobilitas welfare and wealth berperan sangat menentukan secara determinatif terhadap kesadaran, cara berpikir dan tingkah laku masyarakat. Jadi apa yang mereka persepsikan mengenai arti berperikehidupan sosial dan individual itu sangat dipengaruhi oleh seberapa intensnya persepsi dan harapan mereka terhadap masalah gilda reproduksi ekonomi. Bagaimana ketika cabe dan garam tetangga tak bisa lagi diminta begitu saja seperti dulu, tetapi kini harus dibeli di pasar. Lalu cara menilai sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia dan perikehidupan sudah tidak lagi pada hakikat kemanusiaan, sakralitas, substansial, ruh, akhlak alkarimah dan intersubjetivitas egaliter, namun kini lebih kepada aspek-aspek material, profan, performa, kulit, tampang, uang, jabatan dan standar sarjana.
Pada masa lalu masyarakat kita lebih banyak menjadi petani, nelayan, pedagang dan buruh, kita hal itu sudah bergeser. Sekarang sektor pertanian sudah kolaps. Ojek lebih banyak dan pasar telah ada. Artinya sektor jasa dan perdagangan mulai berkembang. Nelayan belum kolaps, hanya saja nasibnya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Buruh pelabuhan masih tetap karena penghasilan darinya lebih menjanjikan. Selain jasa ojek, ada pula jasa speed boat yang memasang tarif lumayan mahal. Sementara di sektor formal, banyak sarjana dari Pelauw yang sudah lulus menjadi pegawai negeri, karyawan bank, pengusaha dan lain-lain. Kalau dibandingkan jumlah sarjana Pelauw yang sangat banyak itu dengan banyaknya sarjana yang telah mendapatkan pekerjaan itu memang masih berada pada tingkat rendah untuk rasionya. Namun jumlah itu sudah cukup beruntung jika dibandingkan dengan nasib masyarakat lain yang jumlah sarjananya sedikit.
Banyaknya orang Pelauw yang telah 'sukses' mendapatkan pekerjaan di sektor formal maupun non formal dalam batas tertentu membawa efek peningkatan income yang besar bagi tingkat kesejahteraan per keluarga di Pelauw, walaupun untuk yang terakhir ini keadaan itu belum merata. Ada keluarga yang dulu kelihatan biasa-biasa saja, (maaf) hidupnya pas-pasan, sekarang ini tampak sudah gemuk-gemuk, punya laptop, hp mahal dan anggota keluarganya bisa kuliah dengan fasilitas yang cukup bisa. Ini adalah fenomena yang tampak beberapa tahun terakhir ini. Di sisi lain, masih banyak keluarga yang karena kurang beruntung dalam hal pendapatan ekonomi untuk bisa membiayai anak-anaknya sekolah sampai tinggi-tinggi, kini harus tabah hidup bertetangga dengan mereka yang sudah beranjak makmur. Kemiskinan adalah fakta yang masih ada di tengah masyarakat kita. Sementara ada dua jenis kemiskinan, yakni kemiskinan alamiah yaitu kemiskinan karena secara alamiah tidak memiliki skill dan kecakapan memproduksi sesuatu yang bisa menghasilkan marjin kesejahteraan baginya, di sisi lain adalah kemiskinan struktural yang memang secara sengaja ada sistem yang membuat sekat-sekat yang menghambat peluang seseorang mengakses sumber-sumber produksi ekonomi. Orang yang lolos dari kemiskinan struktural ini biasanya mereka yang survival of the fittest.
Kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan hidup di kampung itu akan menjadi suatu problem hidup karena banyak hal akan dipengaruhinya, seperti kecemburuan sosial, materialistik oriented, pendangkalan makna kehidupan dan kemanusiaan (dehumanisasi dan desakralisasi), masyarakat egoistik dan masyarakat konsumtif (fun, food, fashion) yang menjadi korban kapitalisme.
Thursday, August 21, 2008
Teringat Kampung (4)
Malam ini aku sendirian. Pondokan lengang dikulum gelap. Aku bersunyi-sunyi dalam kamarku sambil kubalik-balik helai bacaanku yang tertunda sore tadi saat datang dua kawan dari organisasi tempatku biasa ngumpul. Kurebahkan badan yang kini tampak kurus di atas kasur yang pasrah menahan tusukan hawa dingin dari lantai. Sesekali kubuka lagi album foto keluarga. Kalau untuk yang ini tak bisa lepas dari rasa yang melekat walau selalu kucoba tahan. Rasa rinduku akan kampung halaman tak sekuat rasa rinduku untuk bersua dalam lingkaran cinta yang terbatas itu, kaluarga. Sambil kutatapi setiap helai gambar, imajinasiku pulang kampung bersitatap bersama mereka. Ada mama, bapa', kaka, ade-ade, kakek, nenek, keponakan dan banyak lainnya. Sementara kapal Pelni di pelabuhan baru akan bertolak beberapa jam lagi, pikiranku lebih dulu pulang kampung dari mereka yang biasanya, seperti aku beberapa kali alami duduk menunggu di depan ruang tunggu yang penuh sesak orang.
Malam ini aku lebih dulu sampai ke kampung hanya dalam sudut waktu khayali. Setiap kali aku menahan konsentrasi pikiran sambil memfokuskan perhatian hati ke sana, semakin terasa sesuatu yang teramat subjektif, juluran sengat misteri melambaikan percik api rasa dalam hening. Kehanyutan membuai jiwa dalam tamasya imajinatik nir waktu tak pakai ruang kaku.
Thursday, August 14, 2008
Bidadari dari Moro
Nawal datang ke Indonesia untuk melanjutkan pesantrennya. Ia sudah bisa berbahasa Indonesia dan kami berta'aruf sekitar satu jam. Nawal itu perempuan yang memiliki karakter yang kuat, tergambar dari ketegasan ucapannya, tutur kata yang sopan dan lembut dan satu hal lagi yang terekam sebagai kesan pada pandangan pertama, Nawal itu gadis yang amat manis. Wajahnya ayu, kulit hitam manis, senyumnya wahh, membuat ekor mataku tak sanggup berkedip. Matanya indah. Tubuhnya tertutup jilbab.
Awal berkenalan, sebenarnya kebetulan saja. Aku duduk tak jauh dari situ menunggu kawanku yang akan tiba dari kampungnya. Nawal ditemani ibu Aslamiyah, wanita paruh baya kerabat dekat pak Arifuddin. Tak sengaja aku iseng-iseng bertanya "mau ke mana ki?..." akhirnya jawaban dari iseng-iseng itu berlanjut cerita dan perkenalan. Memang walaupun Nawal adalah muslimah yang terkesan eksklusif dari penampilannya, namun ia menunjukkan inklusifitasnya dengan meruapkan nalar komunikasinya apa adanya dengan tetap menjaga suasana yang nyaman dan beradab. Akhirnya sahabat dan kenalan baruku akan segera berangkat. Tak lupa kami bertukar nomor ponsel masing-masing. Ia ke Makassar untuk mengurus pendaftaran ulangnya di Unhas setelah diterima lewat jalur bebas tes. Kini ia akan pulang ke Palopo dan akan balik lagi. Selamat jalan, semoga selamat sampai di rumah, amin. Aku sendiri masih menunggu kawanku yang belum datang juga.