Sudah dua tahun tidak menjamah kampung, aku merasakan rindu yang cukup saja kulipat dalam benak. Kenangan mengenai keluarga, kerabat dekat dan lingkungan rumah menjadi scene hidup di batok memori. Kalau yang tadi sudah wajar dan jamak bagi setiap orang yang berpisah dengan keluarganya di rantau. Satu hal yang membayangi pikiranku yang sempat muncul hingga kupaksakan inisiatif jemariku membenamkannya kedalam cairan pengawet ide liar agar tak mudah muncret adalah pembiaran yang terabaikan, tak teracuhkan, tak tersentuh peduli, apatisme yang terbungkus kemalasan timur, dari ketiadaan budaya membaca dan menulis di kampungku.
Kata orang, banyak membaca berbuah banyak tahu. Membaca berarti mengembara cakrawala dunia yang maha luas. Jargon lain, buku jendela dunia. Buku gudang ilmu. Mengikat makna bisa lewat tulisan. Menulis berarti menyusun ubin peradaban. Karena kata adalah senjata. Karena peradaban harus ditulis. Masih banyak lagi semboyan mengenai pentingnya membaca dan menulis. Satu pertanyaan yang mengerubungi pikiranku adalah mengapa begitu apatisnya masyarakat di kampungku (desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah) dalam hal pembiaran ketiadaan budaya membaca dan menulis ini. Padahal kampungku memiliki banyak sekali murid SD, siswa SMP, pelajar SMA, mahasiswa dan alumni mahasiswa serta kampungku sudah cukup untuk (menurutku) dikategorikan masyarakat yang melek sekolah dan buta hurup. Untuk prestasi (?) kekuasaan politik borokratis di Maluku, terhitung telah menjabat orang dari kampungku dua kali menjadi gubernur. Gubernur Maluku era awal 1990-an dijabat oleh Drs. M. Akib Latuconsina, selanjutnya Dr.Ir. M. Saleh Latuconsina, MSc setelahnya (1998-2003) hingga digantikan oleh Karel A. Ralahalu (2003-2008) yang mempunyai wakil gubernur juga dari kampungku, Drs. Mohammad Latuconsina. Sedangkan Wakil Walikota Ambon yang sementara berjalan ini juga dari kampungku, yakni Dra.Ny.Olivia Latuconsina serta Bupati Kabupaten Maluku Tengah dua periode berturut-turut (2002-2007 dan 2007-2012) dijabat oleh Ir.H.Abdullah Tuasikal, MSi yang juga dari kampungku. Untuk perhelatan Pilkada Gubernur Maluku periode 2008-2013 yang berlangsung pada Juli besok ini pun ada dua kandidat dari kampungku, yakni Drs Mohammad Latuconsina (incumbent Wakil Gubernur Maluku sekarang) dan Ir.H. Abdullah Tuasikal, MSi (Bupati Maluku Tengah sekarang). Masih banyak lagi prestasi (?) politis birokratis lulusan dari kampungku yang lain. Sementara untuk segmen mahasiswa, menurutku mahasiswa yang berasal dari kampungku-lah yang terbanyak di Maluku (sementara ini belum ada data inventarisasi khusus untuk itu, namun berdasarkan kalkulasi sekilas). Mereka kuliah di semua kampus di kota Ambon (kecuali kampus khusus Kristen) dengan jumlah yang cukup banyak. Belum lagi sebarannya di Makassar, Yogyakarta, Jakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Ternate, Sorong dan luar negeri. Jumlah yang cukup banyak untuk tingkatan sebuah desa.
Namun dari fakta sosial kultural di atas itu (walau belum akurat) terjadi deviasi kultural yang 'mengenaskan'. Mengapa deviasi kultural dan mebgapa mengenaskan? Tulisan berikut kumaksudkan untuk mencoba menganalisisnya secara sederhana. Deviasi kultural terjadi sebagai gambaran proses anomali sosial, penyimpangan dari logika keniscayaan yang semestinya terjadi dalam sebuah hipotesis sosial berdasarkan logika kausalitas. Apa yang ada pada kampungku sebagai modal sosial kultural untuk bisa diharapkan berguna bagi sebuah graduasi sosial menuju tatanan sosial yang transformatik berkesejahteraan religius, tampak tak memiliki gapitan empirik yang bagus. Pendidikan sebagai modal sosial kultural masyarakat seharusnya membawa andil progresif bagi tercapainya pemenuhan inspirasi perjuangan insani mengonstruksi bangunan sosial kultural masyarakatnya demi terwujudnya desain kehidupan yang terbaik (sesuai ridho Allah swt). Masyarakat kampungku secara alamiah telah mempraktikkan etos pendidikan formal hingga jenjang 'ultim'. Juga telah menggulati dunia politik birokratis secara 'ultim' pula. Namun mengapa fakta sosial kultural yang ada (das sein) tidak menggambarkan keniscayaan kausalitas prediktif itu? Mengapa tidak ada goresan warna-warni perjuangan menuju cita-cita pembumian nilai ilahiah pada tataran praksis humanitas (das sollen) di sana sebagai bukti adanya modal sosial kultural kepemilikan insan-insan yang berilmu pengetahuan yang sedemikian banyak itu? Apakah kaum intelektual yang banyak itu bukanlah intelektual organik (Antonio Gramsci) tetapi mereka hanyalah kumpulan intelektual tradisional yang egois pengidap karirisme dan materialisme an sich? Rupanya Gramsci benar soal ini. Sungguh ada yang bermasalah pada kaum intelektual kita. Mereka hanya bergulat dengan dunianya sendiri. Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sama sekali terasing dari realitas sosial yang sengkarut tragik. Betapa banyaknya intelektual di kampungku namun kebanyakan dari mereka bodoh tak mengenal realitas diri dan lingkungan kehidupannya. Alih-alih mau diharapkan berbuat banyak bagi perubahan kehidupan ke arah yang diridhoi Allah swt, mereka malah tenggelam dalam kenikmatan pragmatisme, materialisme dan egoisme intelektual untuk memuji diri, keluarga dan seabreg privilege lainnya yang dipinjami Tuhan kepadanya.
tunggu daeng ...!!! lah mana tentang membaca dan menulis..?
Menurutku intelektual tradisional sebagaimana kata Gramsci di atas itu biasanya tak mau ambil pusing, tak mau terlalu repot dengan urusan sosial, urusan maslahat banyak orang. Dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Paling yang diurusi koneksi kerabat dan keluarganya untuk persoalan remeh-temeh perut dan materi duniawi. Soal-soal yang lebih tinggi, lebih luhur dan menyangkut hajat kemanusiaan yang lebih agung seperti pencerdasan, pencerahan dan pemanusiaan manusia, hanyalah dianggap momok mengerikan dan urusan yang tidak penting.
Walau banyaknya orang berilmu di kampungku, fakta ini tidak memberikan kontribusi signifikan bagi pencerdasan, pencerahan dan pemanusiaan manusia di sana. Malah sebaliknya yang terjadi adalah kaum intelektual (tradisional) di kampungku itu menjadi penyulut dan pelaku dekadensi kemanusiaan. Pesta pora, minuman keras, low culture, semuanya didalangi oleh mereka sendiri. Budaya instan sangat berpengaruh. Akhirnya budaya yang tidak instan seperti membaca dan menulis terlupakan. Banyak sarjana di sana namun kurang bermutu. Kurang adanya apresiasi terhadap sisi-sisi humaniora dan peradaban manusia oleh karena instanisme yang memengaruhi sedemikian akut menggersangkan benak dan meng-kakukan inteleksi para pembelajar. Padahal kampung itu memiliki warisan peninggalan budaya masa lampau. Budayanya hanya bisa dihargai dengan cara yang kurang beradab dan meniru model budaya-budaya rendahan peradaban Barat seperti joget-jogetan, nyanyian kurang menyastra, budaya jiplak sana-sini sampai kepada miskinnya penguasaan literatur budaya kuno berefek simplifikasi dan reduksi hakikat budaya itu sendiri. Masyarakatku yang telah tersedia cukup modal sosial kultural seperti di atas namun tak berfaedah pada tataran sosial humanitas akan melahirkan masyarakat yang berwatak iblis, oleh karena ia telah mengenakan jubah pragmatisme, bermahkotakan sekulerisme dan bertahtakan materialisme serta memiliki pedang antihumanisme yang egoistik paganistik. Inilah yang kumaksud dengan kondisi kehidupan masyarakat yang mengarah pada metamorfosis mengenaskan.
Bagaimanapun kampungku tetap akan kurindukan. Aku merindukan kampungku yang bertobat dari pemujaan diri yang lupa akan ilmu hakikat diri. Kampung yang tidak narsis menganggap diri paling, ter, sangat, very, maha dan kampung yang bebas dari segala syirik sosial dan syirik individu. Penghambaan hanyalah kepada Allah swt, Tuhan pemilik segala sesuatu termasuk kampungku dan segenap manusianya entah manusia pongah, manusia sombong, manusia angkuh, manusia arogan, manusia yang merasa dirinya paling benar, manusia yang mengklaim telah mencapai makrifat, manusia yang mengklaim tidak perlu repot-repot shalat, manusia yang takzim kepada leluhur, takzim kepada nenek moyang, mengambil wasilah roh-roh leluhur, nama-nama upu, nama-nama kapitang, nama-nama leluhur yang kebal pelor, kebal parang, kebal silet, kebal senjata, manusia yang patuh kepada aturan adat namun menolak patuh kepada syariat Muhammad saw, manusia yang terjebak dikotomi sesat pikir syariat vs makrifat, manusia yang buta dengan pikirannya menganggap syariat Islam hanya sebatas shalat vs islam makrifat yang berarti adat kampung, manusia yang menolak membuka diri membuka wawasan melihat dunia, sampai kepada manusia-manusia yang saleh, manusia yang rendah diri, manusia yang hanif (kalau ada, mudah-mudahan ada). Aku merindukan kampungku sehat kembali. Sehat oleh karena bebas dari penyakit berkehidupan yang tidak berjiwa syariat Rasulullah saw yang benar. Sehat karena hidupnya nilai-nilai Islam di sana. Semoga rinduku terwujud bak mimpi Yusuf as mengaktualita di imperium Mesir kuno. Aku merindu kampungku punya budaya membaca dan menulis.
Sunday, June 29, 2008
Teringat Kampung (3)
Sunday, April 27, 2008
Teringat Kampung (2)
Aku terperanjat kaget ketika mendapati keadaan kampungku telah berubah. Drastis berganti baju baru, nyaris seratus delapan puluh derajat. Baru lima tahun saja mataku hampir membelalak menikmati tingkah 'seronok' kenikmatan modernitas yang ditangkari kampung pesisir itu. Kepulan asap berpongah jelaga di ketiak teluk kampung yang dijulukinya 'namalatu'. Asap dari deru sangar mesin kapal yang tampak berkarat di sana-sini wajahnya yang mengartikulasikan mimpi besar semangat Robert Fulton, James Watt dan Revolusi Industri beberapa abad nun laloe.
Inikah kampungku? sungguh ketinggalannya aku sampai bertanya seperti orang blo'on yang barru pulang dari pertapaan di gua Plato. Ataukah kampungku terlalu cepat mengganti bajunya yang lama walau belum koyak sembari mengusapi dirinya dengan beribu pesona gemerlapan modernitas yang kemudian menikmati status barunya yang terbaratkan? Entahlah di antara keduanya. Yang merealita adanya di sana adalah banyak hal baru. Sederhananya dari hal baru berarti ada banyak hal juga yang telah terdefenisikan ataukah mendapatkan jatah stigma lama atau ketinggalan jaman dan kemudian mode. Ada mode baru dan kemudian itulah yang lebih berhak digandrungi ketimbang mode yang (ter)usang(kan). Bukanlah aku madah untuk pendefenisian kategorikal binarian dalam apresiasi ini, namun semacam upaya mendekati kenyataan yang ada demi 'membaca'nya sebagai teks-teks jaman yang saling bersitegang memperebutkan dominasi pemaknaan serta kuasa apriorik yang mendulangi ceceran makna lezat sebagai yang layak terpakai.
Mulai dari berubahnya kecenderungan mata pencaharian penduduk sampai kepada permainan anak yang meng'gila'i play station (ps) dan terkuburnya permainan anak tradisional. Dari kultur agraris menuju 'perlahan-lahan' kultur perdagangan dan jasa. Dari budaya feodal komunalis menuju transformasi berwatak borjuis materialis individualis. Dari masyarakat berwawasan 'sebatas' tempurung provinsi menjadi masyarakat berwawasan 'pemecah' tempurung provinsi, walau hal ini masih sangat sedikit dari yang segelintir dari banyak yang telah meroket ke orbit targetisasi pembelajar mahasiswa. Banyak telah berubah.
Baca Selengkapnya...
Inikah kampungku? sungguh ketinggalannya aku sampai bertanya seperti orang blo'on yang barru pulang dari pertapaan di gua Plato. Ataukah kampungku terlalu cepat mengganti bajunya yang lama walau belum koyak sembari mengusapi dirinya dengan beribu pesona gemerlapan modernitas yang kemudian menikmati status barunya yang terbaratkan? Entahlah di antara keduanya. Yang merealita adanya di sana adalah banyak hal baru. Sederhananya dari hal baru berarti ada banyak hal juga yang telah terdefenisikan ataukah mendapatkan jatah stigma lama atau ketinggalan jaman dan kemudian mode. Ada mode baru dan kemudian itulah yang lebih berhak digandrungi ketimbang mode yang (ter)usang(kan). Bukanlah aku madah untuk pendefenisian kategorikal binarian dalam apresiasi ini, namun semacam upaya mendekati kenyataan yang ada demi 'membaca'nya sebagai teks-teks jaman yang saling bersitegang memperebutkan dominasi pemaknaan serta kuasa apriorik yang mendulangi ceceran makna lezat sebagai yang layak terpakai.
Mulai dari berubahnya kecenderungan mata pencaharian penduduk sampai kepada permainan anak yang meng'gila'i play station (ps) dan terkuburnya permainan anak tradisional. Dari kultur agraris menuju 'perlahan-lahan' kultur perdagangan dan jasa. Dari budaya feodal komunalis menuju transformasi berwatak borjuis materialis individualis. Dari masyarakat berwawasan 'sebatas' tempurung provinsi menjadi masyarakat berwawasan 'pemecah' tempurung provinsi, walau hal ini masih sangat sedikit dari yang segelintir dari banyak yang telah meroket ke orbit targetisasi pembelajar mahasiswa. Banyak telah berubah.
Labels:
teriak
Friday, March 21, 2008
Teringat Kampung (1)
Sebuah lengkung bibir pantai berbahan utama tanah berpasir putih dengan sedikit lempung hitamnya menguarkan kilatan pantulan mentari dari pualam lesung teluknya di pagi hari sekitar jam sembilan di bulan Juni pada suatu hitungan tahun yang telah lekang dari ingatan batok kepala ini. Pantai desa tempat aku dilahirkan dan bebas dalam capaian-capaian naluri etape hijau daun pisang deret usia sebagai liturgi monumental mengangkangi satu persatu tingkatan bangku-bangku sekolah, mulai dari SD, SMP sampai SMA. Pantai yang hampir setiap tahun kini telah tampak mengenaskan walau tak begitu mendapat tempat pada erangan peduli masyarakatnya. Ia saban hari berganti terus madah di bawah simbahan terik matahari timur yang membakar kulit dan mengeritingkan rambut nyong-nyong dan nona-nona di sana. Teluk kecil yang isi perutnya nyaris musnah dihardik bedebukan letupan bom ikan sebagai cara pintas mendulang untung walau sekejap akan sirna menjadi onggokan kotoran kemuning. Terumbu karang, anemon, ikan batu-batu, ikan ekan, ubur-ubur, ikan lompa dan maki dan banyak lagi komunitas pesisir teluk yang kira-kira berjarak satu jam menunggang speed boat dari ujung timur pulau ambon, kini menjadi barang langka di situ. Nyaris tak menyisakan sisa di permukaan daratan baweah teluk, tinggal asyurisiwa dan patu omin serta sahi'ir yang memencilkan diri berkubang di balik reruntuhan sarang istana anemon dan pasir putih karang.
Teluk ini dibelah oleh juluran lidah beton separuh balok-balok kayu eboni yang tertatah berderet sebagai landasan di ujung juluran itu. Ia dinamai haita namalatu. Pelabuhan namalatu dari sebuah negeri adat berpenduduk muslim dengan sistem pemerintahan istimewa, model feodal tradisional yang telah berlangsung semenjak beberapa abad lampau dalam sebuah imperium lokal. Maklum, dulu kan belum ada nasion Indonesia, yang ada hanyalah imperium ataukah kesultanan, kerajaan, kedinastian dan sebagainya yang berkecenderungan hidup komunalis daripada sosietal dan bercorak nasionalisme etnik. Negeri ini bernama Pelauw. Desa Pelauw sesuai dengan konvensi kompromistik apa yang menjadi keinginan pemerintah nasional Indonesia dalam perundang-undangan tata pemerintahan, yang menurut sebagian tahanan politik (tapol) ORBA di Pulau Buru, merupakan pengadopsian paksa oleh rezim ORBA untuk menjawanisasi, menghomogenisasi tingkah laku dan oleh karena itu seluruh perangkat budaya dan model pemerintahan negeri-negeri rakyat Indonesia. Sekarang namanya Desa Pelauw dan juga sebagai ibukota kecamatan Pulau Haruku di kabupaten maluku Tengah. Masyarakat di desa ini memiliki etos berpendidikan formal yang sangat tinggi, terlebih setelah terjadi kerusuhan berdarah pada 1999 lalu. Antusiaisme ini dibuktikan dengan sangat banyaknya pemuda lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi yang kemudian fluktuasinya semakin bertambah sampai kini, tak terbatas di kota Ambon saja tetapi mereka menyebar di banyak kota di Indonesia. Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Jakarta, Bandung, Papua, Ternate dan kota lainnya. Yang terbanyak sejak gelombang besar-besaran mahasiswa maluku yang eksodus dari Ambon pasca tragedi 1999 adalah di kota makassar. Di kota ini mahasiswa asal desa Pelauw rata-rata setiap tahunnya tetap bertahan dalam angka di atas lima puluh. Mungkin bisa dikata bahwa jumlah terbanyak mahasiswa dari suatu desa se-Maluku adalah dari desa ini. Terlihat para orang tua di desa ini sangat obsesif menyekolahkan anak-anaknya stinggi mungkin, tak mau ketinggalan dari yang lain. Hampir dipastikan bahwa pendidikan telah menjadi sebuah anggapan aprioriksebagai capaian prestise sosial dan kehormatan keluarga pada masyarakat ini. Orang tua akan merasa bangga pada anak-anaknya yang sukses meraih gelar sarjana. Ada adagium populer mengatakan bahwa anda akan menemukan negeri ini seperti sebuah kampung tradisional yang kelihatan lapuk dan rapuh oleh berjejer rumah-rumah penduduk yang bersahaja dari bahan rakitan pelepah gaba-gaba beratap rumbia. Tapi jangen kaget kalau anda menemukan di dalam kerapuhan kulit luar itu sebuah pigura terawat mantap menggantung di dinding yang tidak cukup mentereng pada malam harinya, sebuah pose bertoga sebagai kebangaan keluarga. Ada kekuatan menyala di foto itu. Kekuatan yang setidaknya membuat rata-rata masyarakat yang tradisional menjaga adatnya dengan baik secara komunal, istilahnya maningkamu, meyakini kekuatan kepercayaan diri sehingga mimpi-mimpi buruk kisah peradaban masa lalu di bawah lipatan kolonialisme eropa bisa teratasi oleh kerendahhatian dan kebersahajaan serta perasaan persaudaraan tanpa perbedaan orientasi materi. Bisa terbaca dengan jelas motif di balik pigura berkaca pada masing-masing gubuk gaba-gaba di sana. Bahwa martabat kemanusiaan dalam batas tertentu harus diditegakkan lewat kerja keras dan menelusuri kanal-kanal ilmiah sebagai jalan terbaik. Masyarakat telah sejak kakek nenek leluhur telah memilin urat-urat kusut berkejangan dalam setiap epos hidup mereka sebagai pelakon hidup yang berniscaya bergulat dalam tirani sejarah dan tangan besi alam. Sejarah telah membentuk otot-otot mereka dan memberikan resume simultante yang tepat dari hasil pergulatn dan pasang surut berkencan dengan kehidupan. Itulah keputusan mereka. Itulah nilai spirit yang dipelihara sebagai etos hidup. ia adalah tekad. Tekad untuk cita-cita bagi gemeletukan gerigi rasa yang mengondensasi pada hasrat menegakkan karsa. Capaian tinggi menjadi manusia pembelajar. Tapi sayangnya menjadi ironi oleh karena capaiannya tidak banyak yang menjadi pembelajar holistik. Hanya intelektual akademik an sich. Tak lengkap. Sudah banyak sarjana namun sangat sedikit yang menjadi intelektual organik seperti dikatakan Antonio Gramsci.
Teluk ini dibelah oleh juluran lidah beton separuh balok-balok kayu eboni yang tertatah berderet sebagai landasan di ujung juluran itu. Ia dinamai haita namalatu. Pelabuhan namalatu dari sebuah negeri adat berpenduduk muslim dengan sistem pemerintahan istimewa, model feodal tradisional yang telah berlangsung semenjak beberapa abad lampau dalam sebuah imperium lokal. Maklum, dulu kan belum ada nasion Indonesia, yang ada hanyalah imperium ataukah kesultanan, kerajaan, kedinastian dan sebagainya yang berkecenderungan hidup komunalis daripada sosietal dan bercorak nasionalisme etnik. Negeri ini bernama Pelauw. Desa Pelauw sesuai dengan konvensi kompromistik apa yang menjadi keinginan pemerintah nasional Indonesia dalam perundang-undangan tata pemerintahan, yang menurut sebagian tahanan politik (tapol) ORBA di Pulau Buru, merupakan pengadopsian paksa oleh rezim ORBA untuk menjawanisasi, menghomogenisasi tingkah laku dan oleh karena itu seluruh perangkat budaya dan model pemerintahan negeri-negeri rakyat Indonesia. Sekarang namanya Desa Pelauw dan juga sebagai ibukota kecamatan Pulau Haruku di kabupaten maluku Tengah. Masyarakat di desa ini memiliki etos berpendidikan formal yang sangat tinggi, terlebih setelah terjadi kerusuhan berdarah pada 1999 lalu. Antusiaisme ini dibuktikan dengan sangat banyaknya pemuda lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi yang kemudian fluktuasinya semakin bertambah sampai kini, tak terbatas di kota Ambon saja tetapi mereka menyebar di banyak kota di Indonesia. Makassar, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Jakarta, Bandung, Papua, Ternate dan kota lainnya. Yang terbanyak sejak gelombang besar-besaran mahasiswa maluku yang eksodus dari Ambon pasca tragedi 1999 adalah di kota makassar. Di kota ini mahasiswa asal desa Pelauw rata-rata setiap tahunnya tetap bertahan dalam angka di atas lima puluh. Mungkin bisa dikata bahwa jumlah terbanyak mahasiswa dari suatu desa se-Maluku adalah dari desa ini. Terlihat para orang tua di desa ini sangat obsesif menyekolahkan anak-anaknya stinggi mungkin, tak mau ketinggalan dari yang lain. Hampir dipastikan bahwa pendidikan telah menjadi sebuah anggapan aprioriksebagai capaian prestise sosial dan kehormatan keluarga pada masyarakat ini. Orang tua akan merasa bangga pada anak-anaknya yang sukses meraih gelar sarjana. Ada adagium populer mengatakan bahwa anda akan menemukan negeri ini seperti sebuah kampung tradisional yang kelihatan lapuk dan rapuh oleh berjejer rumah-rumah penduduk yang bersahaja dari bahan rakitan pelepah gaba-gaba beratap rumbia. Tapi jangen kaget kalau anda menemukan di dalam kerapuhan kulit luar itu sebuah pigura terawat mantap menggantung di dinding yang tidak cukup mentereng pada malam harinya, sebuah pose bertoga sebagai kebangaan keluarga. Ada kekuatan menyala di foto itu. Kekuatan yang setidaknya membuat rata-rata masyarakat yang tradisional menjaga adatnya dengan baik secara komunal, istilahnya maningkamu, meyakini kekuatan kepercayaan diri sehingga mimpi-mimpi buruk kisah peradaban masa lalu di bawah lipatan kolonialisme eropa bisa teratasi oleh kerendahhatian dan kebersahajaan serta perasaan persaudaraan tanpa perbedaan orientasi materi. Bisa terbaca dengan jelas motif di balik pigura berkaca pada masing-masing gubuk gaba-gaba di sana. Bahwa martabat kemanusiaan dalam batas tertentu harus diditegakkan lewat kerja keras dan menelusuri kanal-kanal ilmiah sebagai jalan terbaik. Masyarakat telah sejak kakek nenek leluhur telah memilin urat-urat kusut berkejangan dalam setiap epos hidup mereka sebagai pelakon hidup yang berniscaya bergulat dalam tirani sejarah dan tangan besi alam. Sejarah telah membentuk otot-otot mereka dan memberikan resume simultante yang tepat dari hasil pergulatn dan pasang surut berkencan dengan kehidupan. Itulah keputusan mereka. Itulah nilai spirit yang dipelihara sebagai etos hidup. ia adalah tekad. Tekad untuk cita-cita bagi gemeletukan gerigi rasa yang mengondensasi pada hasrat menegakkan karsa. Capaian tinggi menjadi manusia pembelajar. Tapi sayangnya menjadi ironi oleh karena capaiannya tidak banyak yang menjadi pembelajar holistik. Hanya intelektual akademik an sich. Tak lengkap. Sudah banyak sarjana namun sangat sedikit yang menjadi intelektual organik seperti dikatakan Antonio Gramsci.
Baca Selengkapnya...
Labels:
opini
Friday, March 07, 2008
igauan masa
Lipatan-lipatan sketsa masa yang kuremukkan satu-satu dalam komat-kamit memamah dalam-dalam sebagai yang mentradisi bagi tuntutan aktualita dari pencarian ataukah penelusuran kotak identiitas kemenjadian yang berseronok dekilan rupa tabu dan angkara noktah superego yang melumat dalam dengkuran tiranik, serasa mendulang jarak yang membuana saja kala aku memicing satu-satu helaian sketsa masa yang telah lewat, terbujur jauh sebagai lukisan sejarah yang memitos di geludukan apriori dan imaji ala tutorolog dan khaldunian ataukah notosusantian. Sejarah bagiku meluber jauh dari dekapan keringat Hegel yang menguap meninggalkan kisah arung-arung tak bertulang. Haru mengangker ...
Baca Selengkapnya...
Labels:
renungan
Subscribe to:
Comments (Atom)