Temaram pelita minyak tanah itu sudah lama tak kulihat menerangi malam di ruang tiga kali lima berdindingkan pelepah gaba-gaba milik nenek. Anak-anak tak lagi berdesakan melantai di rumah tetangga demi menonton Ultra Man dan Kuuga. Bayangan itu mungkin masih ada apabila dunia tak secepat ini melipat waktu. Mungkinlah bisa kulihat sketsa hidup kesederhanaan komunal itu sepuluh tahun lalu atau lebih. Sekarang semua sudah berubah. Malam tak membunuh lagi dengan gelapnya. Anak-anak tak sekompak dulu dalam keorganikan perilaku. Mereka dihimpit egoisme televisi, playstasion, handphone, style punky dan gincu sana-sini
Ada teman yang memberitahu hal yang sedang bergeser itu. Pergeseran mengenai perilaku masyarakat di kampung. Ketika cabe dan garam sudah tak seperti dulu lagi bisa kita minta dari tetangga sebelah rumah. Ketika ada orang kaya baru yang sibuk buntutnya memamerkan kekayaannya di hadapan mata, padahal ia tetangga kita yang dulu sama-sama merasakan remuk redam hidup. Ketika setiap anak negeri ini yang dikirimkan orang tuanya menimba ilmu di seberang lautan sebagai prestise keluarga, banyak dari mereka semakin keblinger dan konyol dengan kepicikan pikirannya membawa masuk anarkisme nilai tanpa ba bi bu. Dunia moral dilabrak tanpa reserve. Yang ada tinggal puing-puing nalar kampungisme menjadi sabda sakral di batok apriori.
Perkembangan transisi ekonomi-politik beberapa tahun belakangan yang sangat drastis implikasinya atas tatanan kehidupan masyarakat secara makro di tanah air, terutama setelah muncul surga-surga baru di daerah pada masa desentralisasi ini, dalam skala ril di aras masyarakat kita terjadi banyak perubahan, terlebih pada hal-hal yang sangat tampak dan dekat dengan kehidupan keseharian. Desentralisasi pemerintahan yang membawa kabar baik secara konseptual bagi distribusi kesejahteraan secara egaliter yang bisa menyentuh seluruh sektor masyarakat di daerah, di kampung-kampung , kini dalam rupa keseharian masyarakat memperlihatkan ada yang match dari geliat tersebut. Ini bukan berarti justifikasi realisasi telah betul-betul terjadi, malah bisa dipastikan hal itu dalam kenyataannya masih jauh dari yang semestinya. Yang match dalam hal ini implikasinya mempengaruhi sampai kepada roda ekonomi lokal tingkat desa untuk, entah itu adalah efek yang menggairahkan kemajuan ataupun efek yang kontraproduktif.
Kampung yang masyarakatnya sebagian besar petani cengkih, kelapa, pala, buah-buahan, sagu, kabong kasbi, kaladi, patatas dan lain-lain non padi, kini mulai mengalami pergeseran mata pencaharian karena faktor harga pasar komoditas cengkih- pala yang kurang bagus, tak sebagus sebagai tanaman primadona incaran kaum petualang laut plus penjajah Belanda dan Portugis di abad ke-15 dan 16 dulu. Harga cengkih telah jatuh. Bahkan cengkih di Maluku pun sudah harus bersaing dengan tanaman cengkih di Jawa dan Sulawesi. Selain cengkih, harga pala pun selalu berfluktuasi disamping jumlah tanaman pala tak sebanyak cengkih, walaupun tanaman cengkih yang dimiliki oleh masyarakat Pelauw pun tak sebanyak yang ada di Pulau Seram dan Pulau Buru. Sagu sebagai sumber karbohidrat dan tanaman yang menjadi lumbung pangan pokok masyarakat Maluku jaman dulu dan sebagian jaman sekarang, kini jumlahnya sudah semakin berkurang. Tanaman sagu yang dimiliki oleh masyarakat Pelauw sekarang ini sangat sedikit dibanding sagu di Seram dan tempat lainnya. Bahkan sagu selalu didatangkan dari luar Pelauw untuk kebutuhan konsumsi di Pelauw. Sedangkan dibanding sagu dengan nasi, masyarakat Pelauw tampak lebih banyak mengonsumsi nasi ketimbang sagu. Ini berarti defenisi makanan pokok itu masih bisa didefenisikan ulang.
Masyarakat di kampung bercocok tanam kabong sebagian besar hanya bersifat subsisten, hanya demi konsumsi keluarga, bukan tujuan produksi mendapatkan nilai keuntungan ekonomis. Subsistensi inilah yang menjadi bagian dari sistem hidup agraris-komunalis-tradisional, membawa implikasi pada semangat hidup kekeluargaan dan non komersial. Pola ini bertahan pada masyarakat dan dalam perjalanannya menunjukkan interaksinya dengan faktor eks dari mobilitas ekonomi, sosial dan politik di luar masyarakat yang melingkupinya. Yang terakhir ini yang dimaksud di atas sebagai implikasi pervasifitas transisi kehidupan sosial politik beberapa tahun terakhir pasca Reformasi tahun 1998. Sekarang pola kehidupan yang tradisional dan komunalis mulai bergeser menuju masyarakat berwatak materialistis-modernis-individualistis.
Ternyata Karl Marx benar ketika menyatakan bahwa mind of man bisa dideterminasikan oleh faktor materi, yakni bagaimana keadaan produksi ekonomi yang mengkonstruk mobilitas welfare and wealth berperan sangat menentukan secara determinatif terhadap kesadaran, cara berpikir dan tingkah laku masyarakat. Jadi apa yang mereka persepsikan mengenai arti berperikehidupan sosial dan individual itu sangat dipengaruhi oleh seberapa intensnya persepsi dan harapan mereka terhadap masalah gilda reproduksi ekonomi. Bagaimana ketika cabe dan garam tetangga tak bisa lagi diminta begitu saja seperti dulu, tetapi kini harus dibeli di pasar. Lalu cara menilai sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi manusia dan perikehidupan sudah tidak lagi pada hakikat kemanusiaan, sakralitas, substansial, ruh, akhlak alkarimah dan intersubjetivitas egaliter, namun kini lebih kepada aspek-aspek material, profan, performa, kulit, tampang, uang, jabatan dan standar sarjana.
Pada masa lalu masyarakat kita lebih banyak menjadi petani, nelayan, pedagang dan buruh, kita hal itu sudah bergeser. Sekarang sektor pertanian sudah kolaps. Ojek lebih banyak dan pasar telah ada. Artinya sektor jasa dan perdagangan mulai berkembang. Nelayan belum kolaps, hanya saja nasibnya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Buruh pelabuhan masih tetap karena penghasilan darinya lebih menjanjikan. Selain jasa ojek, ada pula jasa speed boat yang memasang tarif lumayan mahal. Sementara di sektor formal, banyak sarjana dari Pelauw yang sudah lulus menjadi pegawai negeri, karyawan bank, pengusaha dan lain-lain. Kalau dibandingkan jumlah sarjana Pelauw yang sangat banyak itu dengan banyaknya sarjana yang telah mendapatkan pekerjaan itu memang masih berada pada tingkat rendah untuk rasionya. Namun jumlah itu sudah cukup beruntung jika dibandingkan dengan nasib masyarakat lain yang jumlah sarjananya sedikit.
Banyaknya orang Pelauw yang telah 'sukses' mendapatkan pekerjaan di sektor formal maupun non formal dalam batas tertentu membawa efek peningkatan income yang besar bagi tingkat kesejahteraan per keluarga di Pelauw, walaupun untuk yang terakhir ini keadaan itu belum merata. Ada keluarga yang dulu kelihatan biasa-biasa saja, (maaf) hidupnya pas-pasan, sekarang ini tampak sudah gemuk-gemuk, punya laptop, hp mahal dan anggota keluarganya bisa kuliah dengan fasilitas yang cukup bisa. Ini adalah fenomena yang tampak beberapa tahun terakhir ini. Di sisi lain, masih banyak keluarga yang karena kurang beruntung dalam hal pendapatan ekonomi untuk bisa membiayai anak-anaknya sekolah sampai tinggi-tinggi, kini harus tabah hidup bertetangga dengan mereka yang sudah beranjak makmur. Kemiskinan adalah fakta yang masih ada di tengah masyarakat kita. Sementara ada dua jenis kemiskinan, yakni kemiskinan alamiah yaitu kemiskinan karena secara alamiah tidak memiliki skill dan kecakapan memproduksi sesuatu yang bisa menghasilkan marjin kesejahteraan baginya, di sisi lain adalah kemiskinan struktural yang memang secara sengaja ada sistem yang membuat sekat-sekat yang menghambat peluang seseorang mengakses sumber-sumber produksi ekonomi. Orang yang lolos dari kemiskinan struktural ini biasanya mereka yang survival of the fittest.
Kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan hidup di kampung itu akan menjadi suatu problem hidup karena banyak hal akan dipengaruhinya, seperti kecemburuan sosial, materialistik oriented, pendangkalan makna kehidupan dan kemanusiaan (dehumanisasi dan desakralisasi), masyarakat egoistik dan masyarakat konsumtif (fun, food, fashion) yang menjadi korban kapitalisme.
Friday, October 10, 2008
Kutemukan Marx di Kampung
Thursday, August 21, 2008
Teringat Kampung (4)
Malam ini aku sendirian. Pondokan lengang dikulum gelap. Aku bersunyi-sunyi dalam kamarku sambil kubalik-balik helai bacaanku yang tertunda sore tadi saat datang dua kawan dari organisasi tempatku biasa ngumpul. Kurebahkan badan yang kini tampak kurus di atas kasur yang pasrah menahan tusukan hawa dingin dari lantai. Sesekali kubuka lagi album foto keluarga. Kalau untuk yang ini tak bisa lepas dari rasa yang melekat walau selalu kucoba tahan. Rasa rinduku akan kampung halaman tak sekuat rasa rinduku untuk bersua dalam lingkaran cinta yang terbatas itu, kaluarga. Sambil kutatapi setiap helai gambar, imajinasiku pulang kampung bersitatap bersama mereka. Ada mama, bapa', kaka, ade-ade, kakek, nenek, keponakan dan banyak lainnya. Sementara kapal Pelni di pelabuhan baru akan bertolak beberapa jam lagi, pikiranku lebih dulu pulang kampung dari mereka yang biasanya, seperti aku beberapa kali alami duduk menunggu di depan ruang tunggu yang penuh sesak orang.
Malam ini aku lebih dulu sampai ke kampung hanya dalam sudut waktu khayali. Setiap kali aku menahan konsentrasi pikiran sambil memfokuskan perhatian hati ke sana, semakin terasa sesuatu yang teramat subjektif, juluran sengat misteri melambaikan percik api rasa dalam hening. Kehanyutan membuai jiwa dalam tamasya imajinatik nir waktu tak pakai ruang kaku.
Thursday, August 14, 2008
Bidadari dari Moro
Nawal datang ke Indonesia untuk melanjutkan pesantrennya. Ia sudah bisa berbahasa Indonesia dan kami berta'aruf sekitar satu jam. Nawal itu perempuan yang memiliki karakter yang kuat, tergambar dari ketegasan ucapannya, tutur kata yang sopan dan lembut dan satu hal lagi yang terekam sebagai kesan pada pandangan pertama, Nawal itu gadis yang amat manis. Wajahnya ayu, kulit hitam manis, senyumnya wahh, membuat ekor mataku tak sanggup berkedip. Matanya indah. Tubuhnya tertutup jilbab.
Awal berkenalan, sebenarnya kebetulan saja. Aku duduk tak jauh dari situ menunggu kawanku yang akan tiba dari kampungnya. Nawal ditemani ibu Aslamiyah, wanita paruh baya kerabat dekat pak Arifuddin. Tak sengaja aku iseng-iseng bertanya "mau ke mana ki?..." akhirnya jawaban dari iseng-iseng itu berlanjut cerita dan perkenalan. Memang walaupun Nawal adalah muslimah yang terkesan eksklusif dari penampilannya, namun ia menunjukkan inklusifitasnya dengan meruapkan nalar komunikasinya apa adanya dengan tetap menjaga suasana yang nyaman dan beradab. Akhirnya sahabat dan kenalan baruku akan segera berangkat. Tak lupa kami bertukar nomor ponsel masing-masing. Ia ke Makassar untuk mengurus pendaftaran ulangnya di Unhas setelah diterima lewat jalur bebas tes. Kini ia akan pulang ke Palopo dan akan balik lagi. Selamat jalan, semoga selamat sampai di rumah, amin. Aku sendiri masih menunggu kawanku yang belum datang juga.
Sunday, June 29, 2008
Teringat Kampung (3)
Sudah dua tahun tidak menjamah kampung, aku merasakan rindu yang cukup saja kulipat dalam benak. Kenangan mengenai keluarga, kerabat dekat dan lingkungan rumah menjadi scene hidup di batok memori. Kalau yang tadi sudah wajar dan jamak bagi setiap orang yang berpisah dengan keluarganya di rantau. Satu hal yang membayangi pikiranku yang sempat muncul hingga kupaksakan inisiatif jemariku membenamkannya kedalam cairan pengawet ide liar agar tak mudah muncret adalah pembiaran yang terabaikan, tak teracuhkan, tak tersentuh peduli, apatisme yang terbungkus kemalasan timur, dari ketiadaan budaya membaca dan menulis di kampungku.
Kata orang, banyak membaca berbuah banyak tahu. Membaca berarti mengembara cakrawala dunia yang maha luas. Jargon lain, buku jendela dunia. Buku gudang ilmu. Mengikat makna bisa lewat tulisan. Menulis berarti menyusun ubin peradaban. Karena kata adalah senjata. Karena peradaban harus ditulis. Masih banyak lagi semboyan mengenai pentingnya membaca dan menulis. Satu pertanyaan yang mengerubungi pikiranku adalah mengapa begitu apatisnya masyarakat di kampungku (desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah) dalam hal pembiaran ketiadaan budaya membaca dan menulis ini. Padahal kampungku memiliki banyak sekali murid SD, siswa SMP, pelajar SMA, mahasiswa dan alumni mahasiswa serta kampungku sudah cukup untuk (menurutku) dikategorikan masyarakat yang melek sekolah dan buta hurup. Untuk prestasi (?) kekuasaan politik borokratis di Maluku, terhitung telah menjabat orang dari kampungku dua kali menjadi gubernur. Gubernur Maluku era awal 1990-an dijabat oleh Drs. M. Akib Latuconsina, selanjutnya Dr.Ir. M. Saleh Latuconsina, MSc setelahnya (1998-2003) hingga digantikan oleh Karel A. Ralahalu (2003-2008) yang mempunyai wakil gubernur juga dari kampungku, Drs. Mohammad Latuconsina. Sedangkan Wakil Walikota Ambon yang sementara berjalan ini juga dari kampungku, yakni Dra.Ny.Olivia Latuconsina serta Bupati Kabupaten Maluku Tengah dua periode berturut-turut (2002-2007 dan 2007-2012) dijabat oleh Ir.H.Abdullah Tuasikal, MSi yang juga dari kampungku. Untuk perhelatan Pilkada Gubernur Maluku periode 2008-2013 yang berlangsung pada Juli besok ini pun ada dua kandidat dari kampungku, yakni Drs Mohammad Latuconsina (incumbent Wakil Gubernur Maluku sekarang) dan Ir.H. Abdullah Tuasikal, MSi (Bupati Maluku Tengah sekarang). Masih banyak lagi prestasi (?) politis birokratis lulusan dari kampungku yang lain. Sementara untuk segmen mahasiswa, menurutku mahasiswa yang berasal dari kampungku-lah yang terbanyak di Maluku (sementara ini belum ada data inventarisasi khusus untuk itu, namun berdasarkan kalkulasi sekilas). Mereka kuliah di semua kampus di kota Ambon (kecuali kampus khusus Kristen) dengan jumlah yang cukup banyak. Belum lagi sebarannya di Makassar, Yogyakarta, Jakarta, Malang, Surabaya, Bandung, Ternate, Sorong dan luar negeri. Jumlah yang cukup banyak untuk tingkatan sebuah desa.
Namun dari fakta sosial kultural di atas itu (walau belum akurat) terjadi deviasi kultural yang 'mengenaskan'. Mengapa deviasi kultural dan mebgapa mengenaskan? Tulisan berikut kumaksudkan untuk mencoba menganalisisnya secara sederhana. Deviasi kultural terjadi sebagai gambaran proses anomali sosial, penyimpangan dari logika keniscayaan yang semestinya terjadi dalam sebuah hipotesis sosial berdasarkan logika kausalitas. Apa yang ada pada kampungku sebagai modal sosial kultural untuk bisa diharapkan berguna bagi sebuah graduasi sosial menuju tatanan sosial yang transformatik berkesejahteraan religius, tampak tak memiliki gapitan empirik yang bagus. Pendidikan sebagai modal sosial kultural masyarakat seharusnya membawa andil progresif bagi tercapainya pemenuhan inspirasi perjuangan insani mengonstruksi bangunan sosial kultural masyarakatnya demi terwujudnya desain kehidupan yang terbaik (sesuai ridho Allah swt). Masyarakat kampungku secara alamiah telah mempraktikkan etos pendidikan formal hingga jenjang 'ultim'. Juga telah menggulati dunia politik birokratis secara 'ultim' pula. Namun mengapa fakta sosial kultural yang ada (das sein) tidak menggambarkan keniscayaan kausalitas prediktif itu? Mengapa tidak ada goresan warna-warni perjuangan menuju cita-cita pembumian nilai ilahiah pada tataran praksis humanitas (das sollen) di sana sebagai bukti adanya modal sosial kultural kepemilikan insan-insan yang berilmu pengetahuan yang sedemikian banyak itu? Apakah kaum intelektual yang banyak itu bukanlah intelektual organik (Antonio Gramsci) tetapi mereka hanyalah kumpulan intelektual tradisional yang egois pengidap karirisme dan materialisme an sich? Rupanya Gramsci benar soal ini. Sungguh ada yang bermasalah pada kaum intelektual kita. Mereka hanya bergulat dengan dunianya sendiri. Ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sama sekali terasing dari realitas sosial yang sengkarut tragik. Betapa banyaknya intelektual di kampungku namun kebanyakan dari mereka bodoh tak mengenal realitas diri dan lingkungan kehidupannya. Alih-alih mau diharapkan berbuat banyak bagi perubahan kehidupan ke arah yang diridhoi Allah swt, mereka malah tenggelam dalam kenikmatan pragmatisme, materialisme dan egoisme intelektual untuk memuji diri, keluarga dan seabreg privilege lainnya yang dipinjami Tuhan kepadanya.
tunggu daeng ...!!! lah mana tentang membaca dan menulis..?
Menurutku intelektual tradisional sebagaimana kata Gramsci di atas itu biasanya tak mau ambil pusing, tak mau terlalu repot dengan urusan sosial, urusan maslahat banyak orang. Dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Paling yang diurusi koneksi kerabat dan keluarganya untuk persoalan remeh-temeh perut dan materi duniawi. Soal-soal yang lebih tinggi, lebih luhur dan menyangkut hajat kemanusiaan yang lebih agung seperti pencerdasan, pencerahan dan pemanusiaan manusia, hanyalah dianggap momok mengerikan dan urusan yang tidak penting.
Walau banyaknya orang berilmu di kampungku, fakta ini tidak memberikan kontribusi signifikan bagi pencerdasan, pencerahan dan pemanusiaan manusia di sana. Malah sebaliknya yang terjadi adalah kaum intelektual (tradisional) di kampungku itu menjadi penyulut dan pelaku dekadensi kemanusiaan. Pesta pora, minuman keras, low culture, semuanya didalangi oleh mereka sendiri. Budaya instan sangat berpengaruh. Akhirnya budaya yang tidak instan seperti membaca dan menulis terlupakan. Banyak sarjana di sana namun kurang bermutu. Kurang adanya apresiasi terhadap sisi-sisi humaniora dan peradaban manusia oleh karena instanisme yang memengaruhi sedemikian akut menggersangkan benak dan meng-kakukan inteleksi para pembelajar. Padahal kampung itu memiliki warisan peninggalan budaya masa lampau. Budayanya hanya bisa dihargai dengan cara yang kurang beradab dan meniru model budaya-budaya rendahan peradaban Barat seperti joget-jogetan, nyanyian kurang menyastra, budaya jiplak sana-sini sampai kepada miskinnya penguasaan literatur budaya kuno berefek simplifikasi dan reduksi hakikat budaya itu sendiri. Masyarakatku yang telah tersedia cukup modal sosial kultural seperti di atas namun tak berfaedah pada tataran sosial humanitas akan melahirkan masyarakat yang berwatak iblis, oleh karena ia telah mengenakan jubah pragmatisme, bermahkotakan sekulerisme dan bertahtakan materialisme serta memiliki pedang antihumanisme yang egoistik paganistik. Inilah yang kumaksud dengan kondisi kehidupan masyarakat yang mengarah pada metamorfosis mengenaskan.
Bagaimanapun kampungku tetap akan kurindukan. Aku merindukan kampungku yang bertobat dari pemujaan diri yang lupa akan ilmu hakikat diri. Kampung yang tidak narsis menganggap diri paling, ter, sangat, very, maha dan kampung yang bebas dari segala syirik sosial dan syirik individu. Penghambaan hanyalah kepada Allah swt, Tuhan pemilik segala sesuatu termasuk kampungku dan segenap manusianya entah manusia pongah, manusia sombong, manusia angkuh, manusia arogan, manusia yang merasa dirinya paling benar, manusia yang mengklaim telah mencapai makrifat, manusia yang mengklaim tidak perlu repot-repot shalat, manusia yang takzim kepada leluhur, takzim kepada nenek moyang, mengambil wasilah roh-roh leluhur, nama-nama upu, nama-nama kapitang, nama-nama leluhur yang kebal pelor, kebal parang, kebal silet, kebal senjata, manusia yang patuh kepada aturan adat namun menolak patuh kepada syariat Muhammad saw, manusia yang terjebak dikotomi sesat pikir syariat vs makrifat, manusia yang buta dengan pikirannya menganggap syariat Islam hanya sebatas shalat vs islam makrifat yang berarti adat kampung, manusia yang menolak membuka diri membuka wawasan melihat dunia, sampai kepada manusia-manusia yang saleh, manusia yang rendah diri, manusia yang hanif (kalau ada, mudah-mudahan ada). Aku merindukan kampungku sehat kembali. Sehat oleh karena bebas dari penyakit berkehidupan yang tidak berjiwa syariat Rasulullah saw yang benar. Sehat karena hidupnya nilai-nilai Islam di sana. Semoga rinduku terwujud bak mimpi Yusuf as mengaktualita di imperium Mesir kuno. Aku merindu kampungku punya budaya membaca dan menulis.