Friday, December 28, 2007

Benazir Bhutto dibunuh..!!!






(foto:bbc.co.uk)


perempuan pemberani
telah syahid
pakistan hening
malam di Rawalphindi mencekam
rakyat berduka
innalillaahi wainnailaihi raaji'un
leher dan dadanya ditombak peluru
ketragisan disusul kebiadaban bom bunuh diri
lalu siapakah yang punya kepengecutan ini..?
benarlah apa kata sejarah
bahwa kanvas perjuangan selalu dicecari dengan darah
ya, darah yang siap mengucur demi ideal-ideal besar
demi rakyat kecil yang tertindas
demi proletar yang dikebiri borjuasi
demi kaum mustadhafin
demi kebaikan umat
demi kemaslahatan manusia
demi keadilan
pengorbanan darah, air mata dan harta benda
dan Bhutto hanyalah salah satu diantara mereka
mereka yang mengambil pilihan hidup keras
mereka yang berani lantang melawan tirani
mereka yang berani bersuara atas kezaliman
mereka yang teguh menendang bokong kebohongan
mereka yang berkobar dalam jihad
semoga perjuanganmu diridhoi Tuhan
semoga keperkasaanmu yang siap menerjang maut
semoga jiwa besarmu dalam berkonfrontasi dengan diktator
semoga ruh srikandimu
semoga kematianmu menampar tradisi kebengisan
menyumpal kebohongan
meretas perubahan yang memihak rakyatmu
semoga..!



.

Baca Selengkapnya...

Tuesday, December 25, 2007

Elegi Cinta dan Gerak

"Manusia yang merasa puas dan sukses
tak berdaya di mata iblis" -Naguib Mahfouz

Hilir mudik. Kencang tak mau berhenti. Panta rhei sebagaimana sabda Heraclitus. Keadaan begitu cepat berubah, mengaliri dan menghanyutkan apa saja yang mengonggok. Ia adalah tsunami yang mengobrak-abrik. Ialah aktor laten yang 'mengabadi' sepanjang sejarah manusia. Tak terbilang sudah berapa banyak puing peradaban yang digusur kemudian tergantikan yang baru. Ialah dinamika kehidupan itu sendiri. Ialah perubahan. Perubahan selalu ada di mana-mana. Ia adalah sunnatullah yang pasti. Setiap entitas yang sempat mengada pasti hanyut dan terhuyung dalam tarian jagat ini. Kecuali wajah-Nya yang tak serta, karena memang begitulah hukum Sang Sutradara. Mulai dari entitas kemaujudan yang paling kecil sub atmik sampai kepada wujud kosmikal, dari entitas kedirian personal sampai dengan realitas sosial yang serbaga jamak tak terhindarkan dari perubahan. Ia akan bergerak dan menuruti irama ekstase Rumi, kian bergerak hingga terhenyak dalam mabuk cinta. Karena hidup adalah gerak laksana laron yang merindukan cahaya, akan senantiasa mengarakkan kafilahnya menuju tambatan sumber cahaya perlambang cinta. Karena hidup adalah gerak.

Oleh karena cinta, semuanya bergerak. Bergerak dan terus bergerak menuju limit tak bertepi. Terbang menghampiri hingga hangus terbakar. Terbakar dalam kerinduan majelis burung-burung Fariduddin Athar. Meski harus menafikan kedirian yang fana. Diri Majnun yang merindukan Laila. Sebuah kenduri rasa yang menghempaskan nalar awam seperti pentas heroisme Karbala. Epik sayyidina Husain ra yang menerjangi terkaman buas medan tempur dengan memupuskan kegetira. Cinta melahirkan kerinduan. Kerinduan meniscayakan gerak. Cinta berawal dari ketertarikan hati. Ketertarikan sontak bukan karena tanpa sebab. Ia adalah kecenderungan fitriah, bawaan murni sebagai manusia yang merindu dan mencinta. Sementara ketertarikan menyengat batin kala objek cinta meruapkan pesona keindahan yang memijari relung batin. Ia berawal dari pengenalan. Pengenalan sebagai ma'rifat. Ma'rifat sama saja mengenal (Indonesia) atau know about (Inggris). Ma'rifat atau pengenalanlah yang menghantarkan kepada kerinduan (isk) dan cinta (hubb, mahabbah). Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Mana mungkin cinta muncul tanpa pengenalan?

Sementara cinta pemeran lakon sejarah bumi terdiferensiasi atas orientasi cinta Eros (tingkatan rendah, hewaniah, jasadiah, jism, materialisme dan) dan orientasi cinta Platonik (tingkatan tinggi, posmaterial, al qalb). Cinta yang pertama memiliki keterbatasan untuk tingkatan dan daya improvisasi rasa ekspresif serta objek inspiratifnya, sebatas relung imajinatif dan ekspresi keindahan pleassure. Cinta yang terpenjara oleh tubuh, cinta materil yang memancarkan kekuatan insting freudian untuk aktualisasi. Sedangkan cinta jenis kedua tak pupus oleh kehimpitan bentuk dan kemempetan citarasa materi. Ia adalah cinta atas kemahamutlakan wujud, kerinduan atas energi cinta yang tak terkira. Cinta yang sumber inspirasinya tak berbatas ruang waktu, tak berawal dan berakhir, yang meliputi wujud materil dan gaib. Cinta kepada pemilik dan pencipta rasa, penguasa alam semesta dan diri beserta selubung misterinya yang menggelayuti daya imajinatif sang pencinta. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Ahad. Misteri cinta yang menggelayuti diri Adam as beserta anak turunannya sebagai anugerah. Ia ada dalam diri manusia dan mengejawantah sebagai perang tak kunjung usai antara dua kekuatan maknawi yang terberi sebagai tonggak kemerdekaan, yakni jejak iblis dan tapak malaikat. Kehidupannya adalah pemeranan kebebasan menentukan pilihan bagi diri manusia. Perjuangan hebat (jihad akbar) diri manusia untuk memuluskan jiwa merajut sayap-sayap insaniahnya demi meluncur ke limit terawangan malaikat senantiasa berlangsung dan terus berlangsung sampai raga mengonggok mayat, ruh kembali ke asalnya yang suci, hingga perjamuan jiwa dengan malaikat maut. Sungguh perang yang besar karena ia sangat dekat dengan eksistensi keseharian, bahkan penentu eksistensi kemasadepanan. Kemenangan jalan iblis adalah sebuah tonggak pemberontakan atas kekuatan imperium jagat raya, Tuhan Yang Maha Akbar. Ia adalah langkah keberhasilan menjadi oposan dan saat 'kejatuhan dari sorga' sebagaimana Adam as dulu melakoninya.


Sekonyong hidup ini bagi manusia adalah perjuangan. Perjuangan dari potensi ketergelinciran 'jatuh' menuju pengepakan sayap malaikat. Hidup adalah bertarung dengan ego-ego yang menggelincirkan kepada tepi jurang 'kejatuhan'. Jurang yang penuh kegelapan dan bahaya. Seraya bersusah payah menyingkap tirai (hijab) yang selalu saja ada di setiap stasiun kesadaran jiwa kita. Tirai yang menghalangi pancaran sinar mentari pagi kala fajar menyingsing di bebalik gunung batu padang arafah. Tirai yang begitu tebal dan sangat tebal. Semakin tebal ego-ego dan kecenderungan jejak iblis menggelantung di sudut kalbu, maka tirai-tirainya pun sebanyak itu. Perjuangan diri untuk kesegaran mentari pagi adalah perjuangan menyingkap tirai-tirai. Iluminasi cinta akan memekat kala satu demi satu tirai diri tersingkap. Puncak ketersingkapan meroketkan diri menanjak dalam gradasi kemanusiaan yang mabuk cinta (isq) oleh sebab pancaran ma'rifat Allah swt semakin dekat. Ketersingkapan tirai yang ditandai oleh pencerahan spiritual dan intelektual diri yang melejit dari diri yang mendekati 'paripurna' (insan kamil) menegasikan segala anasir kegelapan jejak iblis, membawa kepada ekstase cinta. Ekstase cinta dari diri yang fana' dan tak berarti yang 'ingin bertemu' dengan kekasih sejati, Allah swt, Sang Pemilik cinta sejati. Cinta sejati berupa ma'rifatullah adalah kebenaran yang selain manusiawi (fitrah suci manusia) juga adalah eksperimen spiritual yang sungguh nyata, berdasarkan sejarahnya. Maukah kita ikut ke sana..? ataukah hanya berpuas diri dengan cinta eros.

Baca Selengkapnya...

Tuesday, December 18, 2007

Elitisme Gerakan Mahasiswa Maluku

Pergerakan mahasiswa dan pemuda beserta komponen masyarakat sipil di tanah air dalam alur kesejarahannya yang panjang memiliki varian konteks fenomenal yang terkadang endemik dan dalam batas tertentu mejadi sebuah anomali yang dibiarkan. Salah satu topik telaah pada kesempatan ini adalah menyangkut eksistensi pergerakan dari bumi Maluku. Hal menyangkut fenomena elitisme gerakan memang jamak hampir di setiap konteks gerakan dengan latar belakang serta anasir kepentingan konstruktifnya yang beragam. Hal ini adalah fakta dan terkadang dalam batas tertentu menjadi batu ujian bagi sebagian kalangan gerakan yang mengambil alur aktivisme yang antagonis dengannya. Elitisme secara sederhana penulis maksudkan sebagai sikap kompromistik yang oportunistik dari para agen gerakan serta berkecenderungan mengaktualisasikan watak feodalistik dalam aktivitas individu dan organisasi serta berkedok hajat rakyat untuk sebuah interes kekuasaan berikut privilegenya.


Pertama, pengaruh dominasi etos mobilitas vertikal untuk kekuasaan sebagai sebuah trend. Bertahun-tahun sebelum pecahnya kerusuhan di Maluku pada tahun 1999, kaum muda Maluku tidak begitu terkenal apalagi intens dalam pengadvokasian kasus-kasus yang berkaitan dengan represifitas pihak penguasa kepada masyarakat. Hal ini bisa disebabkan rendahnya eskalasi konflik penguasa (ABRI) vis a vis masyarakat sipil bila dibandingkan dengan eskalasi problem serupa di tempat-tempat yang mengandung kapasitas penyulut konflik tersebut, misalnya konflik tanah dan perburuhan yang gregatnya melambung di Pulau Jawa dan daerah-daerah lain. 'Ketidakterlibatan' elemen pemuda (mahasiswa dan elemen masyarakat sipil) di tanah Maluku dalam konteks perjuangan seperti inilah yang menyebabkan menguatnya kecenderungan aktivisme kaum muda menjadi 'nyaman' dan bergelimang kesentosaan yang berpotensi menjadi menjadi 'kaum bungkam' dan pro status quo. Bisa dibayangkan hal ini yang terjadi dan berlangsung dalam setiap organisasi elemen kaum muda di sana dalam waktu yang relatif lama bisa menyebabkan munculnya budaya aktivisme yang elitis. Kondisi seperti ini dalam konteks pada waktu itu sangat positif dan terasa konstruktif bagi pihak penguasa, namun di sisi lain adalah sebuah kemunduran besar bagi pergerakan kaum muda. Memang tidak ada salahnya memasuki kanal-kanal politik dan birokratis yang disediakan oleh iklim kehidupan politik pada saat itu. Namun dengan tanpa komitmen yang senantiasa harus dikuatkan untuk pengimplementasian peran-peran transformatik bagi pemenuhan hak-hak rakyat yang kala itu tergasak segenap hak sipil-politik serta EKOSOB-nya oleh penguasa secara sistemik, maka progresifitas kaum muda dalam kanal kanal yang have blessed menjadi tarian akrobat yang memalukan.

(bersambung)





Baca Selengkapnya...

Wednesday, November 14, 2007

Jong Molukken; Pemuda Sagu Pemuda Cengkeh-Pala

Jong Molukken (Belanda) atau the moluccas young (pemuda maluku) biasanya dilabelkan oleh masyarakatnya sendiri sebagai pemuda 'malas', biar seng ada uang yang penting bagaya dan performa luarnya tampak sebagai manusia 'keras ' karena rata-rata tekstur kulitnya gelap (hitam manis, istilah populer di tempatnya). Label 'malas' pada identitas pemuda maluku ini memang ada benarnya dalam kenyataan. Keadaan ini sangat mungkin dipengaruhi oleh kondisi alam (sumber produksi kebutuhan hidup) beserta faktor lingkungan sosial dan kesejarahan yang saling berhubungan secara kausalitas.


Yang pertama adalah faktor alam. Di tanah maluku, kecuali pulau Buru, masyarakat rata-rata memproduksi tanaman ubi-ubian (kasbi, kaladi, patatas dan lain-lain) dan sagu dengan berbagai varian kegunaannya sebagai bahan makanan pokok. Karena faktor geologi dan topografi tanah, di sana tidak cocok dijadikan sawah. Alih-alih mau menggarap sawah, masyarakat lebih mengusahakan tanaman perkebunan berusia tahunan, seperti cengkeh, pala, kelapa dan buah-buahan. Namun diantara tanaman yang terakhir itu, cengkeh dan pala-lah yang menjadi komoditi andalan dan terkenal. Bahkan kalau mau bernostalgia, dua komoditi inilah yang menjadi incaran ekspedisi dagang (gold, kapitalisme) yang ambisius (glory) dan disertai misi kristenisasi (gospel) bangsa Eropa berabad-abad lalu. Sebagai perbandingan, sawah adalah lahan berlumpur yang membutuhkan perhatian pengairan serta pemeliharaan dan pemupukan yang terus menerus, bahkan hampir setiap hari. Petani sawah harus menyesuaikan perilaku hidupnya dengan sifat pertumbuhan padi. Setiap pagi, bahkan saat fajar menyinsing, para petani biasanya sudah berangkat ke sawahnya. Bekerja sampai tengah hari, sesudah itu istirahan sebentar dan biasanya beraktivitas di sekitar sawahnya sampai petang tiba. Ini dilakukan dalam pola yang rutin. Mengolah sawah membutuhkan ketekunan, kerajinan dan kesabaran. Mungkin faktor inilah yang membentuk pribadi petani penggarap sawah menjadi pribadi yang sabar dan ulet. Hal ini tak dapat dipungkiri berimplikasi tehadap pola interaksi dan pola hidup di tengah keluarga dan masyarakat.

Kelompok tani atau masyarakat pertanian sawah ini adalah kumpulan dari individu petani penggarap sawah dengan integritas kediriannya yang telah berdialog dengan pola produksi sawahnya, dalam batas tertentu melahirkan konvensi kebermasyarakatan yang bernafaskan pola hidup dengan siklus produksi. Nilai, norma pranata dan budayanya akan terkonstruk secara alamiah di atas sendi siklus produksi pertanian sawah, melahirkan masyarakat pertanian yang secara makro berkarakter sama. Ketika peralihan zaman, masyarakat dengan sendirinya melakoni budayanya sebagai adat yang terus menari-nari secara rutin. Masyarakat berproduksi padi akan melahirkan budaya masyarakat padi, yakni keuletan, bekerja keras dan sabar. Sedangkan masyarakat maluku, karena hanya mengusahakan tanaman ubi-ubian dan sagu sebagai menu makanan pokok yang terwariskan oleh leluhur sampai kini, maka masyarakatnya akan mewariskan budaya sagu dan tanaman ubi-ubian, disamping budaya cengkeh dan pala. Kata petuah dulu, diri dan perilaku anak cucu Adam akan dipengaruhi oleh makanannaya. Mengenai budaya sagu __istilah budaya sagu, budaya padi dan budaya cengkeh-pala serta ubi-ubian sengaja penulis catut untuk membantu dalam menelaah meski terkesan simplistik__ di masayarakat Maluku, sangat terkait dengan budaya ubi-ubian dan budaya cengkeh-pala. Masyarakat menanam sagu yang masa kematangan berproduksinya menunggu waktu berpuluh tahun serta sifat reproduksi tanaman sagu yang vegetatif itu membentuk pola sikap masyarakat yang kurang aktif, karena menunggu dalam waktu yang sangat lama untuk panen __namun hampir setiap bulan ada yang dipanen, karena banyak sekali tanaman sagu yang telah masuk masa panen, pula karena regenerasinya secara vegetatif sangat banyak serta memiliki kelas umur yang kontinyu__tidak terlalu membutuhkan keuletan yang ekstra layaknya petani padi. Demikian juga dengan tanaman ubi-ubian yang meski membutuhkan pemeliharaan yang baik, namun tidak segencar pola pertanian sawah. Lahan bercocok tanam ubi-ubian pun tidak menetap selamanya untuk digarap seperti lahan sawah yang sampai berabad-abad pun masih ditanami padi. Ketidakberlanjutan dan ketidaklamaannya pola bercocok tanam di maluku dinilah rupa-rupanya yang turut membentuk karakteristik perilaku masyarakatnya, minimal dalam hal keuletan, kesabaran dan konsistensi ketabahan bertarung dengan dunia kehidupan. Dengan tidak mengurangi nilai konsistensi life fighting dari masyarakat Maluku, kita dapat melihat bahwa ternyata masyarakat maluku masih jauh semangat kerja keras serta keuletan dan kesabarannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain yang memiliki pola budaya padi. Inilah yang penulis maksudkan, meski dengan sedikit berspekulasi, bahwa ciri ' kemalasan' yang dilekatkan pada pemuda Maluku bersinggungan dengan karakteristik lingkungan alamiahnya. Namun, menurut hemat penulis, hal itu berarti bukan secara inheren sifat kemalasan itu secara natural telah terwariskan dan taken for granted semenjak lahir, namun lebih disebabkan oleh konstruksi lingkungan. Seandainya saja sejak dahul di Maluku ada sawah, mungkin saja perilaku kemalasan itu tidak menjadi 'identitas' yang parokialistik. Parokialistik dalam arti bahwa defenisi sifat kemalasan yang dipandang dan didefenisikan oleh pengamat luar atau orang dalam dengan membuat perbandingan budaya maluku dengan pembanding lain yang memiliki karakter budaya yang berbeda.

Yang kedua adalah faktor sosial dan kesejarahan. Masyarakat Maluku ... (bersambung)

Tulisan di atas hanya mengulas secara sepintas berupa deskripsi imajinatik sederhana sebagai gambaran wawasan dan pengalaman sebagai pemuda yang dilahirkan dan dibesarkan di tengah kultur asli Maluku, tanpa merujuk secara langsung atas bahan-bahan telaah sejarah 'standar' ilmiah(literatur maluku).


Baca Selengkapnya...